RADAR SURABAYA - Hujan deras yang mengguyur Surabaya Sabtu (25/1) malam, menyebabkan banjir di kawasan Tambak Mayor Surabaya.
Hingga Minggu (26/1) siang, beberapa jalan di kawasan tersebut, seperti Jalan Simorejo Sari, masih tergenang. Kendaraan roda dua maupun empat tampak hati-hati melintas.
Salah satu warga, Syaiful menuturkan, banjir mulai menggenangi kawasan tersebut sejak Minggu dini hari pukul 01.00 WIB. Air bahkan masuk ke rumahnya. "Airnya sampai hampir sebetis orang dewasa," ujarnya, Minggu (26/1).
Namun saat menjelang siang banjir sudah mulai surut. Menurutnya, banjir surut karena dipompa dari bawah tol Tambak Mayor yang saat hujan tadi malam juga banjir.
"Itu ada mobil yang menyedot air, makanya cepat. Kalau nggak disedot pasti lama," jelasnya.
Syaiful sendiri mengaku sudah bertahun-tahun tinggal di kawasan tersebut dan selalu mendapati banjir ketika hujan deras mengguyur.
Bahkan dia mengaku banjir di kawasan tersebut dulu sempat hampir diatas lutut orang dewasa. "Sempat dulu di atas lutut, saking derasnya hujan," ungkap Syaiful.
Dia berharap ada pembenahan gorong-gorong dari Pemkot Surabaya karena banjir yang sudah menahun di kawasan Tambak Mayor dan sekitarnya.
"Itu gotnya kecil kalau hujan sebentar saja sudah penuh terus meluber. Terutama got yang dekat dengan tol itu mesti penuh. Segeralah diperbaiki, kalau begini terus perabot rumah ya bisa rusak. Jalan terus lobang bahaya juga," harapnya.
Hingga Minggu siang, terlihat satu kendaraan dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya melakukan penyedotan air dari got.
Penyedotan ini membantu air surut sehingga langsung dibuang ke sungai besar.
Sementara itu, Koordinator Prakirawan BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya, Ady Hermanto mengatakan curah hujan di Surabaya saat ini lebih meningkat karena adanya gangguan dinamika atmosfer ditambah adanya La Nina.
"Curah hujan lebih meningkat karena beberapa faktor seperti La Nina maupun dinamika di atmosfer," ujar Ady.
Hal ini harus diwaspadai terjadinya banjir di kantong-kantong air di daratan yang cukup banyak.
"Ada juga pasang maksimum yang berpotensi untuk wilayah kantong air di daratan juga cukup banyak," jelasnya.
Musim penghujan di Surabaya akan terjadi hingga Maret mendatang atau lebih panjang.
Hal ini disebabkan oleh siklus monsun barat yang berakhir di bulan Maret. Monsun barat merupakan angin yang bertiup dari benua Asia ke benua Australia.
"Kondisi cuaca dipastikan hujan ada siklus monsulu barat yang berakhir di bulan Maret. Jadi kondisi hujan terjadi bulan maret. Sedangkan musim puncak hujan antara Januari Februari intensitas sangat tinggi," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari