Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Varian Baru Flu Burung Merebak, Berpotensi Menular ke Mamalia

Rahmat Sudrajat • Jumat, 24 Januari 2025 | 01:20 WIB
AVIAN INFLUENZA: Flu burung rawan menular dari unggas ke mamalia, sehingga peternak diminta waspada.
AVIAN INFLUENZA: Flu burung rawan menular dari unggas ke mamalia, sehingga peternak diminta waspada.

RADAR SURABAYA – Virus Avian Influenza (AI) atau flu burung kembali merebak di beberapa negara, apalagi dengan hadirnya varian baru.

Munculnya varian baru flu burung yang menginfeksi mamalia telah menimbulkan kekhawatiran dunia. 

Merebaknya virus ini di Amerika Serikat sejak awal 2024, yang baru teridentifikasi pada Maret 2024, menginfeksi unggas dan sapi perah,  mengingatkan kita akan potensi bahaya penularan antar spesies.

Pakar Virologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair), Prof  Suwarno menjelaskan, flu burung merupakan penyakit yang terus berkembang dan bermutasi. 

"Flu burung terus berevolusi, bermutasi dan mengalami spillover, lompatan antar spesies yang berbeda," jelasnya Kamis (23/1).

Migrasi burung, menurutnya, dengan menggerakkan peran penting dalam penyebaran virus AI subtype H5N1 ke berbagai negara.

Indonesia sendiri telah mengalami wabah flu burung sejak 2003, dengan kasus kematian pada manusia hingga 2019. 

Menyikapi merebaknya kasus flu burung di dunia, dia menyebut pemerintah Indonesia telah mengeluarkan surat edaran melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat. 

"Kewaspadaan ini sangat perlu karena beberapa negara di Amerika, Eropa, Afrika, Asia dan Australia telah melaporkan kasus flu burung akibat varian virus Flu Burung A yang sangat patogen," jelas Prof Suwarno.

Dia juga menyebut sapi perah, sebagai salah satu mamalia, berisiko terpapar flu burung.

Penularan dari unggas ke mamalia ini dapat mengakibatkan penurunan produksi susu hingga 20-100 persen.  

Lebih mengkhawatirkan lagi, susu yang dihasilkan sapi yang terinfeksi tercemar virus.

"Susu mentah yang tidak dipasteurisasi dapat menjadi penyebab penyebaran virus pada spesies lain, termasuk kucing, harimau, singa, anjing dan unggas domestik, serta hewan liar lainnya," ungkapnya.

Oleh karena peternak perlu mewaspadai gejala flu burung pada sapi perah, yang umumnya ditandai dengan penurunan nafsu makan, leleran lendir dari hidung, feses lengket atau encer, lesu, dehidrasi, dan demam. 

Kualitas susu juga berubah, menjadi lebih kental dan pekat, serta berwarna kuning mirip kolostrum.

Kucing, menurut Prof Suwarno, jauh lebih berisiko terjangkit daripada anjing karena kebiasaan mereka memangsa burung.

Gejala pada kucing yang terinfeksi meliputi penurunan nafsu makan, lesu, demam, berlendir pada mata, bersin, batuk, hingga sesak napas.  

"Gangguan syaraf seperti tremor dan kejang juga dapat terjadi.  Sumber penularan pada kucing diduga berasal dari susu tidak dipasteurisasi dan daging unggas mentah atau setengah matang," ujarnya.

Untuk mencegah penularan, Prof Suwarno menyarankan untuk menghindari pemberian susu tidak dipasteurisasi dan daging mentah kepada kucing, serta menjaga kucing di dalam rumah agar terhindar dari kontak dengan burung atau hewan liar. 

"Jika kucing menunjukkan gejala yang berisiko, segera bawa ke dokter hewan," pungkasnya. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#kucing #sapi perah #flu burung #mamalia #unggas #universitas airlangga