Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

11 Ribu Orang Berobat TBC di Surabaya, Pemkot Perkuat Sinergi untuk Eliminasi TBC

Dimas Mahendra • Selasa, 21 Januari 2025 | 02:47 WIB

 

PERCEPAT PENANGANAN: Kampanye Pemkot Surabaya untuk menggencarkan upaya eliminasi TBC di Graha Sawunggaling, Senin (20/1).
PERCEPAT PENANGANAN: Kampanye Pemkot Surabaya untuk menggencarkan upaya eliminasi TBC di Graha Sawunggaling, Senin (20/1).

RADAR SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus menggencarkan upaya eliminasi penyakit Tuberkulosis (TBC) sebagai bagian dari target nasional tahun 2030.

Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah dengan mengoptimalkan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) melalui kampanye videografi dan lagu Orkestra Cinta TBC. Acara ini berlangsung di Graha Sawunggaling, Senin (20/1).

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam memerangi TBC, mengingat penyakit ini sulit terdeteksi karena stigma sosial yang masih melekat.

“Kita punya tekad untuk mengeliminasi TBC. Karena TBC merupakan salah satu penyakit yang sulit terdeteksi. Mereka biasanya malu, akhirnya tidak mengaku dan menularkan ke keluarga maupun tetangga,” ujar Eri.

Program ini didukung oleh Tim Percepatan Penanganan TBC yang melibatkan berbagai unsur hexa helix, mulai dari pemerintah, swasta, komunitas, hingga media.

Optimalisasi KIE juga dilakukan melalui media sosial untuk menyampaikan pesan bahwa penderita TBC tidak boleh didiskriminasi.

“Bahkan, Direktur Rumah Sakit Universitas Airlangga, Prof. Dr. Nasronuddin, menciptakan lagu yang mengingatkan kita agar tidak mendiskriminasi penderita. Stigma ini harus diubah,” tambahnya.

Eri menegaskan, Pemkot Surabaya telah mengimplementasikan layanan kesehatan berbasis RW 1 Nakes 1 (R1N1) untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Melalui program ini, data kesehatan warga di setiap RW, termasuk kasus TBC, dapat terpantau dengan baik.

“Dalam 1 RW bisa tahu yang hamil berapa, yang sakit berapa. Dengan model ini, semoga TBC bisa dieliminasi di Surabaya, dengan stigma bahwa orang terkena TBC jangan dijauhi,” jelasnya.

Berbeda dengan Covid-19, TBC tidak memerlukan fasilitas isolasi khusus.

Eri menekankan, penderita TBC tetap bisa berinteraksi asalkan menggunakan masker dan menjalani pengobatan secara rutin.

“Pendekatannya berbeda, penderita TBC bisa tetap berinteraksi dengan masker dan konsumsi obat yang teratur. Jangan sampai ada stigma yang membuat mereka diasingkan,” tegasnya.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya dukungan keluarga dan masyarakat dalam membantu penderita menjalani pengobatan selama enam bulan agar tidak mengalami resistensi obat.

“TBC bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tuntas. Namun, banyak penderita yang enggan melapor karena takut stigma,” paparnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Nanik Sukristina, mengungkapkan bahwa Surabaya menjadi rujukan pengobatan TBC di wilayah Indonesia Timur.

Hingga akhir 2024, total kasus TBC di Surabaya mencapai 11 ribu dari target nasional 16 ribu kasus.

Dari jumlah tersebut, 90 persen penderita sudah menjalani pengobatan.

“Sebanyak 9 ribu kasus berasal dari warga Surabaya, sedangkan sisanya adalah pasien rujukan dari luar kota. Tantangannya adalah memastikan mereka menjalani pengobatan secara tuntas,” jelas Nanik.

Nanik juga menyebut, melalui integrasi data berbasis NIK, penderita TBC yang dirujuk di Surabaya dapat terus dipantau meskipun berasal dari luar wilayah.

“Dengan sistem ini, data pasien tercatat dan mereka bisa melanjutkan pengobatan di puskesmas mana saja,” pungkasnya.

Melalui berbagai upaya kolaboratif ini, Pemkot Surabaya optimis mampu mewujudkan target eliminasi TBC di tahun 2030, sekaligus menghapus stigma sosial terhadap penderita. (dim/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#stigma sosial #tbc #Rumah Sakit Universitas Airlangga #masker #Eliminasi TBC #pemkot surabaya