Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Imbas Viral Dugaan Perselingkuhan, Camat Asemrowo Surabaya Berencana Laporkan Ormas Penggerak ke Polda Jatim

Dimas Mahendra • Kamis, 9 Januari 2025 | 00:45 WIB
Camat Asemrowo Muhammad Khusnul Amin (dua kiri) didampingi Plt Kepala Disinfokom Surabaya sekaligus Kasatpol PP Surabaya M. Fikser (kiri) saat jumpa pers di kantor Kecamatan Asemrowo Surabaya.
Camat Asemrowo Muhammad Khusnul Amin (dua kiri) didampingi Plt Kepala Disinfokom Surabaya sekaligus Kasatpol PP Surabaya M. Fikser (kiri) saat jumpa pers di kantor Kecamatan Asemrowo Surabaya.

RADAR SURABAYA - Camat Asemrowo Surabaya, Muhammad Khusnul Amin, menengarai ada indikasi orang orang yang menggerebek kantornya dan menemukan seorang wanita bersembunyi di kolong meja kerjanya, digerakkan oleh organisasi masyarakat (ormas) tertentu. Namun, dia mengakui tidak mengetahui ormas apa yang terlibat dalam aksi penggerebekan itu.

Kendati demikian, ia mengaku akan menempuh jalur hukum karena kejadian ini dianggap merugikan nama baiknya dan membuat stafnya trauma.

"Saya rencana melapor ke Polda (Jatim). Kurang lebih ada 30 orang (yang menggerebek) saat insiden tersebut," kata Khusnul di Kantor Kecamatan Asemrowo, Jalan Asem Raya Surabaya, Rabu (8/1).

Ia menegaskan bahwa insiden itu tidak bisa dianggap hal yang biasa. Sebab, stafnya yang ada di lokasi sampai merasakan trauma yang mendalam sampai bersembunyi di kolong meja kerjanya.

"Ada banyak orang teriak-teriak itu, rekamannya ada semua," ucapnya.

Namun disinggung terkait kapan waktu akan melapor ke polisi, Khusnul mengaku masih akan merundingkan dengan keluarganya. " Saya niat lapor ada. Cuma saya masih punya orang tua, istri, anak juga," paparnya.

Sementara itu, Devi staf Kecamatan Asemrowo yang ditemukan bersembunyi di meja kerja atasannya mengakui dirinya sangat ketakutan dan mengalami trauma yang mendalam.

"Orang begitu banyaknya, saya panik. Sampai teman saya mengaku pembantu. Dia juga sama, ketakutan. Mas Alfian di belakang pintu. Saya tidak ngapa-ngapain dan lari ke belakang meja," tuturnya.

Ditanya kenapa dirinya tidak mau keluar dari kolong meja saat diketahui warga, Devi mengaku kondisinya saat itu sudah sangat panik. Apalagi banyak orang yang membawa HP dan merekam semua kejadian. Termasuk dirinya yang sembunyi di kolong meja pak camat.

Hal itu membuat dirinya semakin takut untuk keluar dari kolong meja dan memilih meringkuk menekuk badan sambil menutupi wajahnya dengan tangan dan kedua lutut.

"Saya malu, sedih, takut. Saya takut ada yang bawa sajam. Tapi saya keluar akhirnya, setelah ada pak bhabinsa. Itu mereka bukan media, tapi perkumpulannya orang-orang itu. Saya nangis," ujarnya.

Devi menegaskan, keperluan dia dan Alfian di dalam ruangan camat itu murni untuk koordinasi. "Kita melakukan koordinasi karena siangnya itu ada zoom meeting. Makanya, kami prepare apa saja yang perlu disiapkan," ungkap Devi.

Namun, tiba-tiba datang segerombolan warga yang melakukan aksi anarkis dengan cara menggedor-gedor pintu. Tidak berhenti di situ, menurut Devi, mereka juga mencoba mencongkel jendela ruangan camat tersebut dan berteriak-teriak.

"Kenapa saya lari ke mejanya Pak Camat, ya saya ketakutan. Bukan karena saya melakukan sesuatu yang aneh-aneh dengan Pak Camat. Ndak ada. Di situ pyur kami koordinasi. Baju saya juga utuh. Saya tidak melakukan apa-apa. Dan di sana, saya bertiga," ujarnya. (dim)

Editor : Jay Wijayanto
#Polda Jatim #Camat Asemrowo #jalur hukum #Muhammad Khusnul Amin