Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Konsumen Menjerit, Harga Cabai Rawit di Pasar Dukuh Kupang Surabaya Tembus Rp 130 Ribu per Kilogram

Rahmat Sudrajat • Sabtu, 4 Januari 2025 | 22:41 WIB

MAHAL: Pedagang aneka bumbu di Pasar Dukuh Kupang Surabaya curhat harga cabai rawit tembus Rp 130 ribu per kilogram.
MAHAL: Pedagang aneka bumbu di Pasar Dukuh Kupang Surabaya curhat harga cabai rawit tembus Rp 130 ribu per kilogram.
 

RADAR SURABAYA - Harga cabai rawit di pasar tradisional Surabaya meroket dengan kenaikan hingga lebih dari 100 persen pasca Tahun Baru.

Cuaca buruk dan pasokan yang berkurang menjadi penyebab utama lonjakan harga yang membebani pedagang dan konsumen.

Bawang merah dan bawang putih pun ikut mengalami kenaikan harga, menambah beban ekonomi masyarakat.

Di Pasar Dukuh Kupang Surabaya, salah satu pasar tradisional terbesar di Surabaya, pemandangan yang menyayat hati terlihat jelas pada Sabtu (4/1/2025) pagi.

Cabai rawit, yang sebelumnya dijual dengan harga Rp 40 ribu per kilogram, kini melambung tinggi hingga mencapai Rp 120 ribu - Rp 130 ribu per kilogram.

Kenaikan fantastis ini membuat para ibu rumah tangga harus memutar otak untuk menyiasati anggaran belanja bulanan mereka.

"Ya, Mas, ini harganya memang naik sekali. Biasanya Rp 40 ribu, sekarang sudah Rp 130 ribu. Mau gimana lagi, ini sudah harga dari pemasoknya," ujar pedagang cabai di Pasar Dukuh Kupang Surabaya, Juminah, Sabtu (4/1/2025).

Dia mengaku omzet penjualannya menurun drastis sejak harga cabai meroket.

Banyak pembeli yang mengurangi jumlah pembelian, bahkan ada yang memilih untuk tidak membeli sama sekali.

Kenaikan harga tak hanya terjadi pada cabai rawit. Cabai besar juga mengalami nasib serupa. Harga yang sebelumnya Rp 40 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp 55 ribu per kilogram.

Kondisi ini semakin memperparah kesulitan ekonomi masyarakat, khususnya mereka yang berpenghasilan rendah.

Cuaca ekstrem tersebut mengakibatkan gagal panen dan berkurangnya pasokan cabai ke pasaran.

"Hujan terus menerus. Petani susah panen, jadi cabainya sedikit. Makanya harganya naik mahal sekali," jelas Juminah.

Dia berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga cabai agar tidak terus membebani pedagang dan konsumen.

Bukan hanya para pedagang di pasar yang pernah dikunjungi oleh Presiden RI ke-7 Joko Widodo tersebut yang merasakan dampak dari lonjakan harga cabai di Surabaya.

Para pembeli pun ikut merasakan beban berat di tengah melonjaknya harga kebutuhan pokok ini. Mereka harus berpikir ulang sebelum membeli.

"Ya Allah, harganya mahal sekali. Biasanya saya beli cabai rawit Rp 40 ribu ,sekarang harus bayar hampir tiga kali lipat. Bagaimana ini,? Gaji saya tetap, tapi harga kebutuhan pokok terus naik," keluh Ririn.

Dia terlihat hanya membeli sedikit cabai rawit, jauh lebih sedikit dari biasanya. Ririn bukanlah satu-satunya yang mengeluh. Banyak pembeli lainnya yang mengungkapkan kesulitan yang sama. Mereka terpaksa mengurangi jumlah pembelian cabai, bahkan ada yang memilih untuk tidak membeli sama sekali.

"Sekarang masak pakai cabai sedikit saja. Sayang kalau beli banyak, harganya mahal sekali," ujar Sri, seorang pembeli lainnya. (rmt/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#Pasar Dukuh Kupang #surabaya #Harga Cabai Rawit #pedagang