Dipimpin oleh Romo Antonius Gigih Julianto, Imam Paroki Gereja Katolik Santa Perawan Maria Kepanjen Surabaya, Misa Natal ini membawa pesan mendalam tentang makna Natal yang sesungguhnya.
Romo Antonius Gigih Julianto dalam khotbahnya mengajak jemaat untuk merenungkan makna Natal yang diusung tahun ini, yaitu Marilah Bersama Kita Pergi ke Betlehem.
Betlehem, kota kecil yang menjadi tempat kelahiran Yesus, dimaknai sebagai simbol untuk pergi kepada mereka yang terpinggirkan, yang mengalami ketidakadilan, dan membawa kasih serta damai.
"Natal mengajak kita untuk memperhatikan mereka yang miskin, melihat Allah sendiri di dalam diri mereka, terutama yang miskin papa," tegas Romo Antonius.
Pesan ini selaras dengan seruan Paus Fransiskus yang mengajak umat untuk membangun jembatan, bukan tembok, dalam membangun persaudaraan.
"Mari kita tidak membangun tembok, satu sama lain bangunlah jembatan yang menghubungkan, berkomunikasi, berelasi, terbuka terhadap orang lain, tidak memikirkan kepentinganku, kelompokku, memikirkan orang lain," ujar Romo Antonius.
Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria Kepanjen Surabaya, yang dikenal sebagai salah satu gereja tertua di Surabaya, dihiasi dengan konsep Light of Christmas.
Hiasan lampu LED dan bunga hidup menghiasi gereja, menciptakan suasana hangat dan penuh makna.
"Kita menggunakan bunga hidup karena kita tidak mau merusak bumi kita, jadi kita mau kembali ke alam," ujar Yuliana, Ketua Panitia Misa Natal Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria.
Konsep Light of Christmas ini bertujuan untuk menghadirkan nuansa hangat dan penuh kasih dalam perayaan Natal, mengingatkan kembali pada makna Natal sebagai momen berkumpul bersama keluarga.
Misa Natal di Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria Kepanjen Surabaya berjalan lancar dengan jumlah jemaat yang banyak.
Pada malam Natal, Selasa (24/12) tercatat 1.700 jemaat menghadiri Misa pertama dan 780 jemaat untuk Misa kedua.
Pada pagi hari Natal, Rabu (25/12) jumlah jemaat mencapai 870 orang. Selain itu misa pagi ada misa anak-anak bina iman anak katolik (BIAK).
"Untuk Misa kedua yang jam 10 pagi ini, kita belum tahu jumlah jemaatnya karena panitia masih menghitung," terangnya.
Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria Kepanjen Surabaya memiliki sejarah panjang.
Bangunannya, yang kental dengan arsitektur Belanda, menunjukkan bahwa gereja ini merupakan salah satu gereja tertua di Surabaya.
"Kalau mengenai sejarah, kurang tahu, cuman memang berdasarkan sejarah, ini merupakan salah satu gereja tertua karena bisa dilihat dari bangunannya, bangunannya benar-benar bangunan-bangunan aksen Belanda dan masih kental," jelas Yuliana.
Gereja ini telah mengalami beberapa kali renovasi, namun tetap mempertahankan keaslian bangunannya.
"Tidak ada mengubah apapun di bagian batunya, hanya memang renovasinya itu pernah dilakukan untuk yang di dalam gereja," tambah Yuliana.
Perayaan Natal di Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria Kepanjen Surabaya menjadi bukti bahwa semangat Natal tetap hidup dan menginspirasi umat untuk membangun persaudaraan dan kasih sayang. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari