Jumain, salah satu nelayan di sana, terpaksa menghentikan aktivitas melautnya karena gelombang tinggi dan angin kencang yang membahayakan.
"Akhir-akhir ini cuaca di laut sangat ekstrem. Gelombang tinggi, angin kencang, jadi kami tidak berani melaut. Sudah banyak nelayan lain yang juga memarkir perahunya di pinggir pantai," ungkap Jumain, Rabu (18/12).
Ketiadaan penghasilan membuat Jumain dan keluarganya terpaksa makan seadanya. Dia mengaku pasrah karena hingga kini belum ada bantuan dari pemerintah untuk para nelayan yang terdampak cuaca buruk.
"Kami hanya bisa pasrah. Tidak ada pekerjaan lain selain melaut, jadi kami terpaksa harus berdiam diri di rumah," ujarnya.
Menjelang libur sekolah, Natal, dan Tahun Baru, Jumain berupaya bertahan hidup dengan beralih profesi sementara. Dia menyulap perahunya menjadi perahu wisata di Pantai Ria Kenjeran.
"Saya berharap usaha ini bisa membantu keluarga saya untuk bertahan hidup. Namun, saya tetap berharap pemerintah bisa segera memberikan bantuan kepada para nelayan yang terdampak cuaca buruk," harapnya.
Sementara itu, Ady Hermanto, Koordinator Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maritim Tanjung Perak menjelaskan, hujan deras disertai angin kencang merupakan fenomena alamiah di musim penghujan.
Fenomena ini dipicu oleh pertumbuhan awan konvektif yang memicu hujan deras.
"Intensitas hujan yang tinggi dengan durasi waktu yang lama, karena itu beriringan dengan awan cumulonimbus 1-4 jam. Intensitas deras berlangsung 30-45 menit minimal," jelas Ady.
BMKG memprediksi kecepatan angin di Surabaya akan berada di kisaran 5-11 knot dalam lima hari ke depan.
Angin kencang ini dapat datang secara tiba-tiba. Hujan di Surabaya saat ini cenderung terjadi sejak pagi hingga malam, dengan intensitas yang lebih tinggi pada sore hingga malam hari. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari