OLEH: Nurul Afidah, S.Pd. (Guru SD Labschool Unesa 1)
MENYOROTI kasus yang sedang viral saat ini, yaitu tentang seorang guru di sebuah wilayah di Indonesia yang resign karena dia menganggap bahwa lingkungan kerjanya sudah tidak sehat alias toxic.
Istilah toxic biasa digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu yang dianggap dapat merusak jiwa dan mental seseorang dalam kasus tertentu. Menurut hemat penulis, kata toxic bisa juga diartikan berbahaya pada konteks tertentu.
Berada di lingkungan kerja memang tak selamanya akan baik baik saja karena lingkungan kerja pasti mempertemukan dengan banyak orang dengan berbagai karakter yang berbeda.
Perbedaan karakter tersebut yang mungkin akan bisa menjadi salah satu pemicu atau penyebab lingkungan kerja tersebut dianggap toxic. Dengan kata lain, anggapan toxic tentu tidak berlaku untuk semua orang yang ada di lingkungan kerja tersebut.
Manajemen sudut pandang tampaknya diperlukan dalam kasus ini. Apa yang dimaksud dengan sudut pandang? Sudut pandang adalah cara seseorang memandang, menilai, atau memahami sesuatu berdasarkan perspektif, pengalaman, dan pengetahuan yang dimilikinya.
Suatu lingkungan kerja disebut toxic atau sehat itu tergantung sudut pandang tiap orang. Hal tersebut seringkali dialami oleh pekerja baru yang mungkin masih dalam fase adaptasi terhadap lingkungan kerja. Namun, tak jarang pula pekerja senior pun mengalaminya.
Menyesuaikan diri dengan hal baru memang tidak mudah serta butuh proses. Bahkan proses tersebut memerlukan waktu yang cukup lama. Sehingga banyak kasus pekerja resign atau mengundurkan diri dari pekerjaan dengan alasan tidak kerasan karena lingkungan kerja yang tidak nyaman dan tidak bisa mereka terima. Dalih lain adalah demi menjaga kesehatan mental dan keselamatan jiwa.
Lalu apakah hal tersebut dapat dibenarkan? Semua orang berhak menentukan arah dan tujuan hidup mereka masing masing. Sama sekali tidak ada yang menyalahkan keputusan yang mereka ambil, hanya saja mungkin beberapa orang kurang bisa menerima keputusan tersebut sekalipun beberapa orang tidak ada hubungan dengan yang bersangkutan.
Tingkat kebijaksanaan tiap orang pun berbeda. Kembali lagi ke pembahasan tentang sudut pandang. Suatu keputusan dianggap bijak atau tidak itu bersifat relatif alias tidak mutlak.
Keputusan seorang guru yang memutuskan resign dari jabatannya bukan merupakan sebuah kesalahan besar. Ia pasti sudah memikirkan efek jangka panjang serta lebih tahu yang terbaik untuk kehidupannya.
Pertanyaannya, apakah keputusan guru tersebut merugikan atau menguntungkan? Marilah kita bijak menyikapinya. Lantas siapa yang harus disalahkan dalam kasus ini? Lingkungan kerjanya ataukah oknum rekan kerja atau bahkan sang guru itu sendiri?
Menjadi seorang ASN serta memiliki tunjangan yang bernilai cukup besar mungkin menjadi impian banyak orang. Namun perlu juga diingat, hal itu mungkin bukan menjadi prioritas utama beberapa orang.
Menjadi guru, sebuah profesi yang dianggap mulia adalah pilihan. Ada yang memang bercita cita menjadi guru dengan tujuan mendidik anak bangsa tanpa mempedulikan berapa nominal gaji yang diterima. Tetapi ada yang menjadikan gaji sebagai prioritas utama.
Sekali lagi, guru memang sebuah profesi, tetapi untuk menjadi guru bisa bersumber dari panggilan hati dan niat dalam jiwa, atau semata mata bertujuan untuk mendapatkan penghasilan, meskipun saya yakin sebagian besar guru tujuan utamanya adalah mengajar dan mendidik.
Keluhan dan tantangan dalam setiap profesi yang dijalani oleh seseorang pasti beragam. Guru juga manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan. Namun tidak sepantasnya kesalahan yang dilakukan oleh seorang guru atau profesi lain menjadi bahan pergunjingan, apalagi sampai diviralkan yang berakibat memperburuk citra profesi tersebut.
Apapun itu, marilah kita berusaha selalu bijak dalam bersikap dan dalam menanggapi sesuatu. Hargai hak dan keputusan orang lain selagi tidak merugikan. Jika ada pihak yang merasa dirugikan, semoga mereka bisa menyelesaikannya dengan baik.
Tugas kita hanya berusaha menjadi manusia yang baik dan bermanfaat bagi sesama. Semoga kita semua tetap istiqomah mengemban tugas dan amanah yang saat ini kita jalani. Nikmati dan syukuri hidup tanpa merendahkan dan menjatuhkan orang lain.
* Disclaimer: Penulis merupakan seorang guru yang mempunyai lingkungan kerja yang sehat.
Editor : Jay Wijayanto