RADAR SURABAYA – Pertempuran November 1945 tak hanya terjadi di kawasan tengah kota dan utara Surabaya saja, melainkan juga meluas ke wilayah lain, salah satunya Gunung Sari.
Serangan Inggris yang brutal untuk menembus kawasan Gunung Sari Surabaya, pada 28 November 1945 meninggalkan kisah yang heroik bagi lima anggota tentara pelajar.
Mereka berusaha bertahan perbukitan Gunung Sari yang saat ini jadi lapangan golf untuk menahan serangan Inggris.
Ketika itu serangan yang tidak seimbang, karena Inggris menggunakan tank sedangkan para pelajar hanya menggunakan senapan biasa.
Mereka menahan serangan Inggris dari arah selatan yang melawati perbukitan Gunung Sari agar dapat pejuang lainnya bisa mundur ke daerah Kebraon, Kedurus hingga Sepanjang.
Dan mereka mengobarkan jiwa raganya untuk kawan-kawannya bisa bertahan dan lari lebih jauh.
Akhirnya lima anggota tentara pelajar yakni Suwarjo, Suwondo, Sunyoto, Syamsudin, dan Suwardi yang berada di perkubuan atau perlindungan tertembak tank sermen milik Inggris. Peluru tersebut masuk ke dalam perkubuan dan meledak.
Ketika meledak sebagian tubuh dari tentara pelajar ini terpecah karena saking derasnya serangan peluru Inggris.
Akhirnya tank pun melewati di atas perkubuan yang membuat kelimanya terkubur hingga gugur karena roda tank.
Kelima orang tentara pelajar ini pun akhirnya ditemukan setelah 47 tahun lamanya telah menjadi kerangka bersama dengan senjata.
9 November 1994 saat dilakukan penggalian saluran air di bukit yang jadi lapangan golf, secara tidak sengaja penggali menemukan kerangka.
Kemudian kerangka kelima pejuang tersebut dimakamkan ke TMP Mayjen Sungkono Surabaya dan senjata yang masih ada pun di abadikan di Museum Brawijaya.
Peristiwa revolusi Surabaya 1945 tersebut ditampilkan dalam teatrikal Pertahanan Terakhir Gunung Sari, di Halaman Monumen Tugu Pahlawan, Surabaya, Minggu (15/12).
Menurut Ketua Soerabaia Combine Reenactor, Riyanto Polo, peristiwa Palagan Gunung Sari jarang diangkat ke publik. Padahal peristiwa tersebut menjadi peristiwa pertempuran Surabaya yang terakhir.
Karena ketika kota Surabaya jatuh pertempuran berakhir di Wonokromo dan Gunung Sari.
"Nah, peristiwa pertempuran Gunung Sari ini jarang diangkat. Jadi kami mengingatkan kembali ke masyarakat bahwa pertempuran Surabaya tidak hanya 10 November saja. Bahkan peristiwa pertempuran di Gunung Sari juga paling besar," ujar Riyanto.
Peristiwa yang terjadi 28 November 1945, akhir pertempuran Surabaya. Setelah pertempuran pertahanan Gunung Sari dapat dijebol oleh Inggris kemudian dilanjutkan sampai ke Kedurus hingga Kebraon.
"29 November Inggris berhasil menembus daerah kedurus, Kebraon dan ketika mau masuk daerah Sepanjang jembatannya diledakkan Mayor Hasanuddin Sidiq yang merupakan komandan TKR Teknik Gajah Mada. Jadi peristiwa itu satu rangkaian dengan peristiwa Jembatan Sepanjang," terangnya.
Peristiwa Gunung Sari dikatakan Riyanto juga ada lagu untuk mengenang peristiwa heroik tersebut. Lagu berjudul Nyala Gunung Sari diciptakan oleh anggota tentara pelajar yakni Abdul Shaleh.
Dalam teatrikal tersebut diikuti oleh 55 orang yang berasal dari pegiat sejarah dari Sepanjang Heritage, Mojokerto Reenactor, Jombang Reenactor, Begandring Soerabaia dan Surabaya Combine Reenactor.
Dengan digelarnya teatrikal Pertahanan Terakhir Gunung Sari ini dia berharap bisa menjadi pelestari nilai perjuangan dan patriotisme di Surabaya.
Sehingga masyarakat Surabaya tidak lupa akan jati dirinya sebagai kota Pahlawan yang telah ditetapkan satu tahun setelah pertempuran Surabaya oleh Presiden Soekarno di Yogyakarta.
"Ini yang kami harapkan adanya teatrikal ini rutin digelar oleh Pemkot Surabaya yang mendukung pelestarian nilai kejuangan dan patriotisme di Surabaya," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari