RADAR SURABAYA - Uskup Surabaya terpilih, RD Agustinus Tri Budi Utomo, akan ditahbiskan pada 22 Januari 2025. Rohaniwan asal Ngawi ini memilih moto Diligere Sicut Christus Dilexit atau Mencintai seperti Kristus mencintai.
Moto ini terinspirasi dari Injil Yohanes 17:26 dan memperdalam makna moto tahbisan imamatnya hampir 26 tahun lalu. Fokus pada kata "mencintai" mencerminkan teladan Paus Fransiskus yang mengajak Gereja menghadapi krisis cinta kasih di dunia, yang sering kali mengabaikan persaudaraan sejati.
Menurut Uskup Didik, sapaan akrabnya, Gereja di Surabaya harus menjadi jembatan kasih, bukan sekadar benteng. "Saya mengajak umat menciptakan masyarakat berperadaban kasih yang mendukung keadilan dan perdamaian dunia," ujarnya. Ia terinspirasi visi Paus Fransiskus untuk membangun budaya kasih yang melampaui sekadar perbuatan baik.
Logo tahbisan Monsinyur Didik dirancang dengan perisai yang memuat lima ikon liturgi, yakni kerygma (pewartaan), koinonia (persekutuan), martiria (kesaksian), dan diakonia (pelayanan).
Elemen-elemen ini mencerminkan misi Gereja dalam mewartakan kasih Kristus:
1. Pelikan
Melambangkan pengorbanan Kristus dan Gereja yang rela berkorban demi umat, simbol cinta kasih yang memberikan hidup untuk yang lain.
2. Alkitab dengan Alfa dan Omega
Menggambarkan Kristus sebagai awal dan akhir, sumber dan tujuan kehidupan umat beriman.
3. Kerang
Terinspirasi dari St. Yakobus di Santiago de Compostela, Spanyol, kerang melambangkan perjalanan peziarahan rohani menuju kehidupan kekal.
4. Tangan, Hati, dan Darah
Mewakili diakonia, atau pelayanan kasih yang tulus. Tangan menggambarkan memberi, hati mencerminkan kasih, dan darah melambangkan pengorbanan demi sesama.
5. Tugu Pahlawan
Ikon Kota Surabaya ini melambangkan martiria atau kesaksian iman. Uskup Didik mengingatkan bahwa semangat kesaksian Gereja harus nyata di Surabaya dan seluruh Indonesia.
Melalui moto dan logo ini, Uskup Didik ingin membawa umat Katolik Surabaya menjadi Gereja yang hidup dalam kasih sejati, menjadi saksi Kristus, serta berkontribusi pada dunia yang lebih adil dan damai. (*)
Editor : Lambertus Hurek