RADAR SURABAYA – Sejarawan asal Belanda, Olivier Johannes, baru-baru ini melakukan kunjungan ke Rumah Abu Marga Han yang terletak di Jalan Karet 72, Surabaya. Rumah ini dikenal sebagai ‘rumah abu’, yang dalam tradisi Tionghoa digunakan sebagai tempat penghormatan kepada leluhur.
Istilah 'rumah abu' sering kali dianggap sebagai tempat penitipan guci berisi abu jenazah. Namun, menurut Robert Han, pewakilan keluarga Han, yang juga menjadi pemandu, anggapan itu tidak sepenuhnya benar.
"Secara tradisional, kaum Tionghoa tidak mengkremasi jenazah, melainkan mereka dikubur. Rumah ini disebut 'rumah abu' karena di sini banyak dibakar dupa kemenyan yang menghasilkan abu," ujar Robert Han, menjelaskan asal-usul nama tersebut.
Rumah Abu Han memiliki tampilan bangunan yang menghadap ke barat, tepatnya ke arah Jalan Karet, dengan lebar sekitar 12 meter dan panjang tanah sekitar 100 meter ke arah timur. Lokasinya berada di dekat bekas pemakaman Kaum Tionghoa di Surabaya pada masa VOC, tepatnya di Pasar Bong.
Pada abad ke-18, Jalan Karet sudah menjadi permukiman Tionghoa, meskipun berada di luar benteng kota lama. Oleh pihak Belanda, kawasan ini dikenal dengan sebutan 'Chineesche Voorstraat', yang berarti Jalan Tionghoa di luar benteng kota.
Menurut catatan sejarah, pada tahun 1756, rumah ini sudah dihuni oleh Han Bwee Kong (1727-1778), seorang pengusaha sukses di bidang agribisnis dan Kapiten Tionghoa pertama di Surabaya. Rumah ini merupakan tempat tinggal keluarga Han, keturunan generasi kedua dari Han Siong Kong (1673-1743), yang menjadi perintis marga Han di Tanah Jawa.
Meskipun Han Bwee Kong dan istrinya dimakamkan di Pasar Bong, makam mereka semakin terdesak oleh pembangunan, sehingga keluarga Han mendirikan rumah abu pada tahun 1876 sebagai tempat penghormatan kepada leluhur mereka.
Di dalam rumah abu, terdapat altar utama dengan puluhan papan leluhur yang berisi informasi tentang anggota keluarga Han dari generasi pertama hingga ketujuh. Robert Han, yang merupakan generasi ke-9, menjelaskan bahwa generasi kedelapan keluarga mereka telah masuk agama Katolik dan tidak lagi mengikuti tradisi lama.
Rumah abu yang berukuran 12 x 50 meter ini terdiri dari lima bagian bangunan yang saling berdempetan. Gaya arsitektur yang digunakan memadukan unsur-unsur arsitektur Tionghoa dan Eropa.
Bagian depan dan ujung rumah menampilkan arsitektur Tionghoa yang dominan. Kemungkinan besar berasal dari rumah yang dibangun pada 1756 atau sebelumnya. Sementara itu, tiga bagian tengah bangunan menunjukkan gaya Eropa dengan pengaruh Neoklasik dan Chalet, yang populer pada 1870-an.
Salah satu ciri khas bangunan ini adalah penggunaan tiang besi cor di bagian keempat rumah, yang berasal dari pabrik W. Macfarlane & Co. Glasgow, sebuah pabrik besi di Skotlandia yang berkembang pada pertengahan abad ke-19.
Di belakang rumah abu terdapat rumah tinggal sederhana yang kini dihuni oleh penjaga rumah abu, Jono, beserta keluarganya. Gaya arsitektur rumah tersebut juga berasal dari periode 1870-an.
Di area belakang rumah penjaga, terdapat sebuah makam Tionghoa (bong) yang masih tersisa dari pemakaman lama. Kuburan itu berisi jenazah seorang laki-laki bermarga Kwa, bernama An Chang, yang diperkirakan wafat pada 1636 atau 1696.
Kunjungan sejarawan Belanda ini memberikan wawasan yang lebih dalam tentang sejarah dan tradisi keluarga Han serta kekayaan budaya yang terdapat di Surabaya, khususnya terkait dengan sejarah komunitas Tionghoa. (*)
Editor : Lambertus Hurek