RADAR SURABAYA – Andre So, Direktur Surabaya International Institute of Business and Technology (SIIBT), menyoroti tantangan pencari kerja di Indonesia yang sering kali tidak mampu memenuhi persyaratan yang diminta dunia kerja. Sebagai lulusan Taiwan dan guru senior bahasa Mandarin di Surabaya, Andre mengungkapkan bahwa pendidikan saja tidak cukup untuk bersaing di pasar kerja yang semakin kompetitif.
“Presiden Jokowi pernah berjanji menciptakan 10 juta pekerjaan, dan memang peluang kerja itu banyak. Tapi, pekerjaan itu kan butuh syarat, bukan hanya ijazah,” ujar Andre So di Surabaya, Selasa (3/12/2024).
Menurut dia, banyak perusahaan yang mencari karyawan dengan kualifikasi seperti ijazah S1, kemampuan berbahasa Inggris, Mandarin, hingga pengalaman kerja. Namun, sebagian besar lulusan sarjana di Indonesia belum memiliki kemampuan ini.
Andre mencontohkan bagaimana lowongan di perusahaan ritel selalu menarik ribuan pelamar untuk posisi yang hanya membutuhkan lima orang. “Kenapa? Karena syaratnya sederhana: ijazah SMA, jujur, rajin, dan ulet. Hampir semua orang bisa melamar. Tapi, kalau syaratnya lebih tinggi seperti bisa Mandarin atau Inggris, pelamar pasti mundur,” katanya.
Menurut dia, ini menjadi ironi karena banyak perusahaan besar di Indonesia justru kesulitan mencari tenaga kerja yang bisa berbahasa Mandarin. Padahal, gaji yang ditawarkan mencapai dua digit.
“Mereka cari ke mana-mana, tapi tetap sulit. Ini membuktikan bahwa pengangguran terjadi karena lulusan kita tidak memenuhi kebutuhan pasar,” jelasnya.
Andre menekankan pentingnya kuliah di negara seperti Taiwan yang menawarkan kombinasi pendidikan berkualitas dan peluang kerja. “Di Taiwan, kuliah akademiknya pakai bahasa Inggris, tapi kita hidup di negara berbahasa Mandarin. Jadi, kita bisa langsung menguasai dua bahasa asing sekaligus,” ungkapnya.
Selain itu, sistem pendidikan di Taiwan menerapkan program magang selama dua tahun setelah lulus. "Dengan kuliah di Taiwan, kita pulang membawa ijazah, pengalaman kerja, kemampuan bahasa Mandarin, dan bahasa Inggris. Semua ini melengkapi kebutuhan dunia karir di Indonesia,” tambah Andre.
Andre juga mengkritisi tren studi ke negara-negara lain yang kurang relevan dengan kebutuhan pasar kerja di Indonesia. “Kalau ke negara Barat, ya kita hanya dapat bahasa Inggris. Ilmu saja tidak cukup kalau mau kerja di sini. Biayanya juga mahal. Setelah pulang, maukah mereka bekerja dengan gaji Rp 6-7 juta?” tanyanya.
Andre berharap generasi muda Indonesia mulai menyadari pentingnya memenuhi kebutuhan pasar kerja dengan keahlian yang spesifik. Untuk mendukung hal ini, SIIBT membuka program diploma dua tahun yang dirancang untuk memberikan keahlian praktis, terutama di bidang bahasa dan teknologi.
“Sayangnya, masih banyak yang belum sadar diri. Tradisi tamat kuliah lalu menganggur ini harus diubah,” tegasnya. (rek)
Editor : Lambertus Hurek