RADAR SURABAYA – Menteri Lingkungan Hidup (LH) sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia (RI), Hanif Faisol Nurofiq, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah Kota Surabaya dalam mengelola sampah.
Ia bahkan berencana mengadopsi, mereplikasi, hingga meningkatkan (scale up) pendekatan Surabaya untuk diterapkan di kota-kota besar lain, termasuk Jakarta.
Dalam kunjungan perdananya ke Kota Pahlawan, Menteri Hanif mengunjungi Bank Sampah Induk dan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA) Benowo, Selasa (19/11).
Ia menyaksikan langsung upaya pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat, seperti pemanfaatan sampah plastik low-grade (sachet mie instan, kopi, dan sejenisnya) melalui kegiatan kreatif.
“Surabaya sudah maju dalam pengelolaan sampah. Kami akan adopsi dan skill up untuk diterapkan di kota-kota besar lainnya. Contohnya, Sungai Kalimas yang bersih akan menjadi inspirasi untuk mereplikasi di sungai-sungai di Jakarta dan kota besar lainnya,” ujar Menteri Hanif.
Menteri LH Hanif menegaskan, pihaknya akan berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Surabaya untuk memperluas program Bank Sampah.
Ia berharap, setiap RT/RW di Surabaya memiliki Bank Sampah Unit (BSU) dan setiap kecamatan memiliki Bank Sampah Induk.
Selain itu, hotel, restoran, kafe, dan kawasan komersial lainnya didorong untuk bekerja sama dengan bank sampah di lingkungannya.
“Dengan adanya Bank Sampah di tingkat lokal, beban sampah yang masuk ke TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu) bisa berkurang. Kami akan mendukung daerah seperti Surabaya yang serius dalam pengelolaan sampah, termasuk berkolaborasi secara langsung,” jelasnya.
Hanif juga menyoroti pentingnya pendekatan yang fokus pada pengelolaan sampah di hulu untuk mencegah beban berlebih di TPA atau PLTSA.
“Setiap hari, produksi sampah di Surabaya mencapai 1.800 ton, dengan sekitar 1.500 ton masuk ke TPA Benowo. Dari jumlah itu, 1.000 ton dikelola oleh PLTSA. Langkah ini perlu diperkuat,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya, Dedik Irianto menyatakan bahwa Pemkot Surabaya berkomitmen untuk terus meningkatkan pengelolaan sampah dengan fokus pada pengurangan dan pemilahan di sumbernya.
Dedik menyebut, warga Surabaya menghasilkan rata-rata 1.800 hingga 2.000 ton sampah per hari, dengan kontribusi per orang mencapai 0,6 kg per hari.
Namun, pada siang hari, penduduk Surabaya yang bertambah hingga 5 juta turut membawa sampah tambahan.
“Kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sudah cukup baik. Dari total sampah, sekitar 1.300 hingga 1.500 ton masuk ke TPA Benowo setiap harinya, sementara sisanya berhasil direduksi melalui pemilahan di rumah tangga,” ujar Dedik.
Dedik menambahkan, meskipun kapasitas TPA Benowo masih mencukupi, volume sampah di Surabaya terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk.
Oleh karena itu, ia berharap gerakan memilah sampah dari rumah tangga dapat terus digalakkan secara masif.
“Jika masyarakat lebih aktif memilah sampah, volume yang masuk ke TPA bisa ditekan lebih jauh. Ini penting agar pengelolaan sampah di Surabaya tetap berkelanjutan,” pungkasnya. (dim/nur)
Editor : Nurista Purnamasari