RADAR SURABAYA - Universitas Airlangga (Unair) berencana untuk memproduksi massal vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) untuk hewan terutama sapi.
Rektor Unair Prof Muhammad Nasih mengatakan, sejauh ini Unair telah melakukan penelitian untuk vaksin PMK karena penyakit tersebut mudah merebak pada hewan.
Bahkan selama ini pemerintah melakukan impor vaksin dari luar negeri karena belum ada vaksin yang diproduksi di dalam negeri.
"Jadi sebenarnya proses kita sudah lama karena PMK menjadi sangat isu lama dan di dunia ini, termasuk di Indonesia juga ya belum ketemu vaksinnya," kata Prof Muhammad Nasih, Senin (11/11).
Prof Nasih mengaku, target untuk produksi vaksin PMK dilakukan tahun depan.
Karena saat ini pihaknya masih mempersiapkan untuk proses penelitian lebih lanjut termasuk juga uji coba.
Berbeda dengan vaksin manusia, vaksin untuk hewan ini dikatakan Prof Nasih lebih cepat untuk prosesnya.
"Vaksinya masih dikembangkan lagi, insyaallah enggak lama lagi, mudah-mudahan awal, awal tahun sudah bisa kita produksi. Karenakan proses uji coba lebih muda ya dibandingkan dengan manusia (vaksin, Red), ini karena hanya untuk hewan saja," terangnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa vaksin PMK tersebut juga sangat banyak manfaatnya, selain untuk kebutuhan antisipasi virus juga untuk kebutuhan gizi pada sapi, seperti dagingnya maupun pada susu yang dihasilkan.
Apalagi jika kondisi sapi dalam negeri sehat, tentu tidak usah lagi pemerintah untuk melakukan impor sapi.
"Insyaallah kita siap kebutuhannya sangat banyak dan ini men-support benar program pemerintah untuk makan bergizi itu, karena nanti kaitannya dengan sapi, sapi juga nanti kaitannya dengan susu dan lain-lain tentu saja," ujar Prof Nasih.
Vaksin PMK ini merupakan kali pertama dibuat oleh Unair. Jika sebelumnya Unair telah membuat vaksin untuk covid pada manusia.
"Hal inilah yang membedakan dengan lainnya. Begitu ada kasus PMK kita sudah pelajari obatnya (vaksin, Red). Apalagi vaksin ini sudah kita uji cobakan kepada hewan. Jadi tinggal sedikit lagi prosesnya," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari