RADAR SURABAYA - Mural atau grafiti itu sudah muncul sekitar abad 20 hingga 21 di dunia. Dimana waktu itu untuk menyalurkan bakat seni di bidang grafiti.
”Untuk istilah mural atau grafiti sendiri muncul sekitar paruh abad 20 hingga 21 di dunia barat,” kata pemerhati sejarah Surabaya Nur Setiawan.
Wawan sapaan akrabnya Nur Setiawan menjelaskan, untuk teknik setiap mural atau grafiti sebenarnya sudah ada zaman prasejarah.
Saat itu manusia purba masih berpindah-pindah tempat alias nomaden, biasanya ketika mereka tinggal di dalam gua selalu menorehkan sebuah gambar yang mempunyai makna.
Gambar-gambar itu dilukiskan di dinding gua menggunakan bahan-bahan alami semacam getah dari tumbuhan.
Menurutnya, di Indonesia mural dan grafiti paling mencolok saat tahun 1940-an, ketika perang kemerdekaan terjadi.
Para pejuang melakukan perang urat syaraf melalui grafiti yakni membuat coretan-coretan di tembok yang berisikan kritikan maupun satir terhadap pihak penjajah.
Selain itu, grafiti-grafiti tersebut juga ditorehkan pada dinding kereta yang isinya merupakan semangat perjuangan maupun seruan untuk menentang penjajahan.
“Kalau dulu grafiti untuk kritikan maupun satir terhadap pihak penjajah. Namun untuk sekarang grafiti lebih ke hobi atau kreativitas dalam sebuah karya seni,” tutupnya.
Di Surabaya sendiri sejak era perebutan kemerdekaan, grafiti menghiasi dinding-dinding kota.
Sampai saat ini masih banyak grafiti yang bisa ditemukan, baik yang bersifat vandalisme maupun karya seni. (jar/nur)
Editor : Jay Wijayanto