RADAR SURABAYA - Kampung Doro, yang terletak di Suikerstraat atau Jalan Gula, menyimpan kenangan akan sebuah era kejayaan teater di Surabaya. Pada akhir abad ke-19, tepatnya tahun 1891, sebuah kelompok teater bernama Komedie Stamboel didirikan di sana oleh Yap Gwan Thay.
Markas Komedi Stambul berada di Kampoeng Dorostraat 13, yang merupakan toko milik Yap. Di sini, kelompok teater ini memulai debutnya, menampilkan berbagai lakon yang menghibur masyarakat pada masa penjajahan Belanda.
Komedie Stamboel terdiri dari 16 pemain, termasuk empat perempuan, yang sering kali berlatih dan tampil di bawah tenda di Kampung Doro.
Komedie Stamboel terkenal dengan pertunjukannya yang memikat, di antaranya lakon-lakon klasik seperti "1001 Malam" dan "Ali Baba". Karya-karya ini disutradarai oleh Tuan A. Mahieu, yang berperan penting dalam kesuksesan kelompok teater ini. Penampilan mereka menjadi favorit masyarakat, terutama di kalangan komunitas Tionghoa Surabaya.
Namun, seiring berjalannya waktu, pertunjukan yang awalnya diadakan di tenda Kampung Doro harus pindah ke gedung yang lebih layak di Jalan Kapasan, mengingat semakin meningkatnya permintaan dan antusiasme dari penonton.
Komedie Stamboel pun mulai diundang untuk tampil di kota-kota lain di Hindia Belanda, menjadikannya salah satu pionir teater modern di Indonesia.
Sayangnya, kini jejak Komedie Stamboel hampir hilang dari Kampung Doro. Banyak penduduk Surabaya yang tidak lagi mengenal nama ini, bahkan sejarah Kampung Doro sebagai pusat teater yang berpengaruh di masa lalu pun mulai terlupakan.
Hanya tersisa sedikit rumah dan tidak lebih dari 15 warga yang tinggal di kampung tersebut. Banyak di antara mereka yang mengaku tidak pernah mendengar tentang Komedie Stamboel.
Untungnya, ada penelitian mendalam tentang Komedie Stamboel yang dilakukan oleh Matthew Isaac Cohen, seorang peneliti dari University of London. Karyanya, "Komedie Stamboel: Popular Theater in Colonial Indonesia 1891-1903," telah mengungkap kembali pentingnya kelompok teater ini dalam sejarah seni pertunjukan Indonesia.
Kampung Doro saat ini tampak seperti permukiman yang terkurung, dengan akses jalan yang sempit. Namun, sejarah yang terkandung di dalamnya tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Surabaya, yang perlu dikenang dan dipelajari oleh generasi mendatang. (rek)
Editor : Lambertus Hurek