RADAR SURABAYA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya menyediakan layanan tes HIV sukarela atau Voluntary Counseling and Testing (VCT) di berbagai pusat layanan kesehatan.
Hal ini dilakukan dalam upaya menekan laju penyebaran HIV di Kota Surabaya.
Layanan ini disediakan di sejumlah Puskesmas, rumah sakit (RS), dan klinik berbasis komunitas.
Tujuannya agar memberikan akses mudah bagi masyarakat untuk memeriksa status kesehatan mereka secara sukarela dan menerima konseling yang diperlukan.
Kepala Dinas Kesehatan Surabaya Nanik Sukristina menjelaskan, penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman, berbagi jarum suntik, serta transmisi dari ibu ke anak selama kehamilan atau menyusui.
Untuk mencegah hal tersebut, Dinkes Surabaya menggalakkan sosialisasi program VCT agar masyarakat dapat mendeteksi dini dan memulai pengobatan yang diperlukan, terutama bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHIV).
“Melalui layanan VCT, seseorang dapat mengetahui status HIV-nya secara dini, sehingga jika terdeteksi positif, dapat segera memulai pengobatan ARV (Antiretroviral) yang kami sediakan gratis di 64 layanan kesehatan di Surabaya,” kata Nanik, Selasa (24/10).
Dinkes juga menjalankan beberapa strategi lain dalam menangani kasus HIV, termasuk edukasi melalui kampanye kesadaran di kalangan remaja dan ibu hamil.
Bahkan, ibu hamil kini diwajibkan memeriksa status HIV sebagai bagian dari pemeriksaan kehamilan rutin.
Selain itu, Dinkes Surabaya bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk memberikan edukasi bagi kelompok berisiko tinggi, seperti pekerja seks, lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL), waria, dan pengguna narkoba suntik.
Dinkes juga menguatkan dukungan konseling bagi ODHIV agar konsisten menjalani terapi ARV.
“Kepatuhan terhadap pengobatan sangat penting untuk mencegah resistensi obat dan menekan penularan HIV lebih lanjut,” tambah Nanik.
Ke depan, Dinkes berkomitmen memperluas fasilitas layanan HIV dengan menambah pusat kesehatan yang menyediakan layanan tes dan konseling.
“Kami terus meningkatkan akses layanan, didukung sumber daya manusia terlatih agar masyarakat semakin mudah mendapatkan layanan kesehatan terkait HIV,” tutup Nanik.
Dengan ketersediaan layanan VCT yang lebih luas, diharapkan upaya preventif terhadap penyebaran HIV di Surabaya semakin efektif, sekaligus memberikan dukungan yang dibutuhkan bagi para ODHIV dalam menjalani pengobatan. (dim/nur)
Editor : Nurista Purnamasari