RADAR SURABAYA – Dalam rangka mendukung program pemerintah untuk mencetak lebih banyak tenaga medis, Indonesia Tionghoa Culture (ITC) Centre berperan aktif dengan menyediakan kuliah murah dan beasiswa bersubsidi ke China. Program ini bertujuan untuk menyiapkan tenaga kesehatan dengan standar internasional.
"Mahasiswa yang kami kirim akan belajar dengan standar global, menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris, sehingga tidak ada kendala bahasa selama studi di China," ungkap Andre So, Koordinator ITC Centre, Kamis (24/10).
Biaya yang dibutuhkan untuk mengikuti program ini relatif terjangkau dibandingkan pendidikan kedokteran di dalam negeri. Biaya masuk sekitar Rp 35 juta, dengan SPP sebesar Rp 15 juta per semester.
ITC Centre telah memberangkatkan 50 mahasiswa tahun ini untuk menempuh pendidikan di tiga universitas kedokteran terkemuka di China, yaitu Hubei Politeknik University, Xinxiang Medical University, dan North Sichuan Medical University.
Dari 50 mahasiswa tersebut, dua di antaranya akan melanjutkan ke jenjang spesialis (PPDS). "Program ini memberikan peluang besar bagi calon dokter Indonesia untuk mengembangkan kemampuan mereka di kancah internasional," tambah Andre, yang juga berprofesi sebagai guru bahasa Mandarin di Surabaya.
Menurut Andre, salah satu kelebihan para mahasiswa yang kembali ke Indonesia setelah studi di China adalah kemampuan berbahasa Inggris dan Mandarin yang baik.
"Ini akan membantu memajukan program pemerintah untuk mendorong masyarakat berobat di dalam negeri saja. Sebelumnya, ada isu tentang dokter asing di Indonesia. Sekarang, orang Indonesia sendiri sudah belajar ke luar negeri dan menjadi dokter di sini," jelas Andre.
Andre juga menambahkan bahwa semua kampus yang bekerja sama dengan ITC Centre telah terdaftar di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Indonesia. "Kami berharap adik-adik mahasiswa dan para orang tua bisa memberikan kepercayaan kepada ITC Centre untuk masa depan cerah anak-anak mereka," tutupnya. (adv)
Editor : Lambertus Hurek