RADAR SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berencana meluncurkan RSUD Eka Candrarini atau Rumah Sakit Surabaya Timur pada November mendatang. Rumah sakit ini diharapkan menjadi pusat layanan kesehatan khusus ibu dan anak, yang akan berperan penting dalam mendukung layanan kesehatan di Surabaya.
Ketua Fraksi Gerindra DPRD Surabaya, Ajeng Wira Wati, mendorong agar layanan spesialis ibu dan anak di rumah sakit baru tersebut segera dibuka untuk melayani masyarakat. Menurut Ajeng, fasilitas ini sangat penting untuk mengurangi penumpukan pasien dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak di Surabaya.
“Kami berharap rumah sakit ini segera dibuka agar masyarakat Surabaya bisa mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik. Selain itu, diperlukan juga layanan psikolog untuk mendukung kesehatan mental ibu dan anak, sehingga tidak hanya aspek fisik yang diperhatikan,” ujar Ajeng.
Ajeng menambahkan bahwa layanan kesehatan yang komprehensif harus mencakup berbagai fase, mulai dari kehamilan hingga tumbuh kembang anak. Kehadiran psikolog di rumah sakit ini dinilai penting untuk mendukung pertumbuhan anak dan menjaga kesehatan ibu secara menyeluruh.
Meski saat ini layanan kesehatan ibu dan anak tersedia di sejumlah puskesmas, Ajeng berharap Rumah Sakit Surabaya Timur dapat menawarkan fasilitas yang lebih lengkap dan spesifik. "Kami ingin agar layanan ini benar-benar maksimal, dengan fasilitas yang lebih lengkap dibandingkan puskesmas," jelasnya.
Sebagai anggota Komisi D DPRD Surabaya, Ajeng juga mendesak agar peralatan medis yang diperlukan segera dipasang dan beroperasi sebelum November 2024. Hal ini penting untuk memastikan layanan optimal dapat diberikan kepada masyarakat tanpa penundaan atau antrean panjang.
Namun, Ajeng mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi terbaru, rumah sakit tersebut baru akan memulai layanan poliklinik umum pada November 2024. Sementara, layanan spesialis ibu dan anak masih menunggu ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang memadai.
“Rekrutmen pegawai baru akan dilakukan pada 2025, jadi tahun ini hanya layanan umum yang akan beroperasi. Untuk sementara, SDM yang ada akan dibackup oleh tenaga medis dari beberapa rumah sakit milik pemerintah seperti RS Soewandhie dan RS BDH,” tutup Ajeng. (dim)
Editor : Lambertus Hurek