RADAR SURABAYA – Surabaya menjadi gudang anak-anak muda kreatif. Nampaknya hal itu bukan hanya omongan belaka.
Karena banyak anak muda Kota Pahlawan yang sukses mengharumkan nama Surabaya melalui industri kreatif.
Seperti lima anak muda yang sukses menggelar pameran seni pertunjukan video mapping di Basement Alun-Alun Surabaya.
Bahkan, mereka telah menunjukkan kesuksesannya sampai ke luar negeri.
Berangkat dari satu jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, kelima pemuda tersebut adalah Akbar Maulana Sugianto, Tedi Mursalat Farqo, Dwi Prasetyo, Esa Perkasa Novenda, dan Moch Edo Barrudy telah menunjukkan eksistensi dalam berkreasi selama 10 tahun ini.
Menurut salah satu founder LZY Visual, Tedi Mursalat, selama ini dunia seni pertunjukan video mapping di Indonesia mulai menjamur.
Namun di Surabaya peminatnya masih sedikit, bahkan LZY menjadi salah satu pioner di Surabaya yang eksis.
"Kalau di Jakarta sudah reguler seperti kemarin kami pernah garap di Museum Nasional, kemudian di Monas hampir setiap tahun. Kalau di Surabaya sendiri kita mencoba untuk meregulerkan penampilan video mapping ini," ujar Tedi kepada Radar Surabaya, Selasa (22/10).
Selain di Jakarta, kemudian di Yogyakarta, Bandung, hingga Malang juga sudah mulai marak event-event yang menggunakan seni pertunjukan video mapping.
"Yogyakarta bahkan ada event yang rutin digelar. Perkembangannya juga luar biasa," imbuhnya.
Tedi mengaku, di dalam negeri pihaknya sering bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya.
Seperti saat launching Kota Lama di depan gedung Internatio. Selain itu juga tahun 2017 video mapping pernah menghiasi Gedung Siola serta Gedung Grahadi, maupun di sekitar Tugu Pahlawan.
"Rata-rata konten untuk di Surabaya biasanya tentang heritage. Karena menyesuaikan dengan konsep dari pemerintah kota," terangnya.
Tak hanya di Indonesia saja, LZY Visual juga sudah melebarkan sayap karyanya ke luar negeri.
Seperti Romania, Jepang, Prancis dan terakhir di New York mereka mengisi pameran dan juga seni pertunjukan.
"Ya pernah juga di Romania, Jepang, Prancis dan New York kita tampilkan video mapping," ujar Tedi.
Tedi dan keempat rekannya kini sudah 10 tahun berkecimpung di dunia seni pertunjukan video mapping.
Berangkat dari kampus kemudian merambah ke dunia komersial hingga sampai ke beberapa negara memang hal yang luar biasa bagi kelima pemuda tersebut.
"Awal mulanya dari kampus pas zaman kuliah. Cuma zaman kuliah tidak komersil. Sekarang sudah komersil. Dulu sempat diajari senior ada workshop terus ikut,” ungkap Tedi.
“Kemudian ada tugas baru ngisi di kampus pakai video mapping setelah itu lanjut terus sampai sekarang. Ya dari 2014 sampai sekarang," imbuhnya.
Oleh karena itu, selama 10 tahun berjalan, kelima pemuda ini tidak lupa akan kota yang membesarkannya yakni Surabaya.
Sehingga dengan tema LUMIORIA menjadi peringatan 10 LZY Visual berkarya di dunia industri kreatif dengan mengadakan pameran video mapping di Alun-Alun Surabaya.
Bahkan kini sampai tembus ribuan orang yang telah berkunjung ke pameran tersebut untuk menyaksikan macam-macam video pendek menggunakan teknik video mapping.
LZY sendiri menurut Tedi berarti malas-malasan namun ke arah yang positif.
Dengan nama LZY pun mereka tidak menjadi malas, malah sudah mencapai luar negeri untuk menunjukkan kreativitasnya.
Oleh karena itu, dia dan kawan-kawannya berharap video mapping di Surabaya lebih membumi dan dikenal banyak masyarakat umum.
"Ya harapannya lebih dikenal di masyarakat umum, karena pasar di Surabaya berbeda dengan di Jakarta, Yogyakarta, Bandung. Manfaatnya pun banyak banget juga sebagai media promosi yang lebih mengena ke masyarakat," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari