Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pentas di Kota Lama Surabaya, Kartolo Ajak Seniman Ludruk dan Masyarakat Jawa Timur Lestarikan Warisan Nenek Moyang

Rahmat Sudrajat • Senin, 21 Oktober 2024 | 20:14 WIB
LIVING LEGEND: Seniman ludruk Surabaya, Kartolo menembangkan kidung dalam pertunjukan ludruk yang digelar di area Kota Lama Surabaya, Minggu (20/10) malam.
LIVING LEGEND: Seniman ludruk Surabaya, Kartolo menembangkan kidung dalam pertunjukan ludruk yang digelar di area Kota Lama Surabaya, Minggu (20/10) malam.

RADAR SURABAYA - Penampilan living legend (legenda hidup) ludruk Kartolo di halaman gedung Internatio, Kota Lama, Surabaya, Minggu (20/10) mengobati kerinduan pecinta ludruk.

Tak hanya yang generasi tua saja, namun juga terlihat anak muda yang tertawa ketika melihat Kartolo mbanyol (becanda) di atas panggung.

Apalagi penampilan Kartolo diawali dengan parikan jula juli khas ludruk.

Pagelaran seni ludruk yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur ini sebagai pelestarian budaya Jawa Timur.

Selain itu juga sebagai Rangkaian Hari Jadi Provinsi Jawa Timur ke-79.

Dalam parikan Kartolo mengajak masyarakat Jawa Timur untuk bersatu, bergotong royong supaya Jawa Timur tambah makmur.

Partisipasi terus membangun supaya masyarakat Jawa Timur uripe (hidupnya) tambah makmur.

"Ayo tetap bersatu gotong royong agar tetap hebat. Supaya Jawa Timur ya tambah makmur," ujar Kartolo dalam parikannya.

Selain itu, Kartolo juga tampil berkolaborasi dengan ludruk Cakra Wijaya.

Dalam kolaborasinya Kartolo juga mengajak seniman ludruk lainnya agar terus melestarikan dan meningkatkan kebudayaan.

Hal itu diungkapkan ke salah satu pemain ludruk Cakra Wijaya saat tampil.

"Jangan lupa nilai-nilai ludruk dan kesenian Jawa Timur itu perlu dilestarikan. Sekarang jaman sudah maju. Banyak sekali hiburan, alatnya juga sudah maju. Yang terpenting jangan sampai ludruk punah," tutur Kartolo.

Bagi Kartolo, ludruk merupakan warisan leluhur nenek moyang.

Mencintai kesenian dikatakannya harus dengan kesadaran hati dan tidak bisa dipaksakan.

Namun perlu wadah khusus bagi anak muda untuk bisa tetap melestarikan kesenian. Terutama dengan diinisiasi oleh pemerintah.

"Mencintai ludruk itu dengan hati tidak bisa dipaksa. Apalagi ludruk warisan leluhur nenek moyang. Jadi harus benar-benar dengan hati melestarikannya," tegas pria kelahiran 1947 ini.

Kartolo tidak sendiri, dia juga tampil bersama sang istri tercinta yakni Kastini atau akrab dengan panggilan Ning Tini.

Kecintaan Kartolo pada Kastini menang sangat luar biasa di dalam kehidupan nyata. Kartolo mengaku bangga bisa tampil di Kota Lama.

"Bangga bisa main ludruk di depan gedung Internatio yang penuh dengan sejarah ini. Sehingga ludruk dan gedung Internatio sama-sama memiliki sejarah yang tak terlupakan," ujar Kartolo.

Sementara itu, lakon cerita yang dibawakan dalam ludruk tersebut adalah Sarip Tambak Oso yang terkenal di abad 19.

Sosok Sarip terkenal dengan pemuda kampung yang tnggal di wetan (timur) sungai Sedati, Sidoarjo.

Sarip dikenal sebagai pendekar yang tempramen, namun sangat perhatian pada nasib orang miskin yang menjadi korban pemungutan pajak oleh Belanda ketika itu.

Perlawanan terhadap Belanda dilakukan Sarip hingga akhirnya Sarip menjadi buronan kompeni Belanda.

Belanda pun tak tinggal diam dia segera untuk mengetahui kelemahan Sarip yang terkenal dengan kesaktiannya.

Maka dikumpulkannya para pendekar untuk melawan Sarip.

Akhir Belanda mengetahui kesaktian Sarip yang terletak di ibunya. Belanda akhirnya menangkap ibu Sarip kemudian menembaknya.

Sarip pun terdesak hingga akhirnya tertangkap Belanda dan dijatuhi hukuman mati dengan dikubur hidup-hidup dalam sumur yang diatasnya ditutup batu. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#kesenian #Kartolo #jula juli #ludruk #kota lama surabaya #warisan nenek moyang