RADAR SURABAYA - Sejak awal tahun Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya sudah menangani insiden kebakaran sebanyak 321 kasus.
Penyebabnya ada dua hal. Pertama memang faktor cuaca panas yang biasanya menyebabkan kebakaran pada objek ilalang.
Lalu yang kedua adalah kebakaran di hunian atau gedung yang disebabkan oleh korsleting listrik.
Kepala DPKP Kota Surabaya Laksita Rini Sevriani mengungkapkan, saat ini Surabaya tengah memasuki puncak dari musim kemarau.
Puncak musim kemarau ini biasanya akan terjadi mulai dari bulan September hingga Oktober saat ini.
Nah, pada momen ini, sering kali ditemukan kejadian kebakaran di lahan terbuka.
"Area alang-alang banyak terjadi seperti itu, mungkin karena musim kemarau dan panas yang luar biasa, suhunya tinggi, anginnya kencang, dan ditambah masyarakat membakar sampah akhirnya tersambarlah semuanya,” kata Rini.
Ratusan kasus kebakaran yang ditangani DPKP mulai dari kebakaran areal terbuka hingga hunian atau gedung.
Melihat kondisi panas ekstrem saat ini, dia berpesan pada lurah dan camat untuk mengawasi lingkungan sekitarnya.
Utamanya areal kosong. Tujuannya, untuk mengantisipasi adanya kemungkinan warga membakar sampah sembarangan yang dapat menyebabkan kebakaran.
"Khususnya saat musim kemarau saat ini, karena memang faktor terjadinya kebakaran bisa saja dari kelalaian manusia atau suhu alam," ucapnya.
Dia menambahkan, masyarakat selain dilarang membakar sampah sembarangan, mereka juga diimbau untuk memperhatikan perangkat listrik di sekitarnya.
Masyarakat diharapkan tidak lupa untuk mematikan kipas angin, mencabut charger handphone yang tidak dipakai, maupun tidak menumpuk steker listrik yang dapat memicu konsleting listrik.
“Objek rumah terbakar karena konsleting listrik karena bisa menyambar dan mengakibatkan kebakaran. Maka kabel harus di cek, harus dilakukan pemeliharaan agar tidak memicu konsleting listrik,” urainya.
Lebih lanjut, dia mengungkapkan kalau DKPP juga rutin menggelar sosialisasi dan simulasi upaya pencegahan dan penanganan kebakaran.
Simulasi ini bekerjasama dengan kelurahan dan kecamatan melalui RT/RW.
Isinya terkait bagaimana cara menangani kejadian kebakaran pada tiga menit pertama.
"Tiga menit pertama itu menentukan, apakah api berpotensi membesar atau tidak. Warga sudah kita latih, jika terkait dengan kompor, mereka memadamkan dengan karung goni atau handuk basah, atau yang memiliki apar bisa langsung memadamkan," ujarnya.
Selain diberi bekal penanganan, Rini melanjutkan, saat ini masyarakat semakin aktif untuk mengikuti pelatihan.
Masyarakat juga sudah sangat proaktif melaporkan kejadian kebakaran melalui Command Center (CC) 112.
"Hasilnya dari beberapa kasus kebakaran yang terjadi, warga setempat berhasil memadamkan api. DPKP Surabaya yang meninjau lokasi pun tinggal melakukan pembasahan," pungkasnya. (dim/nur)
Editor : Nurista Purnamasari