Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tragedi Bunuh Diri Mahasiswi Surabaya, Psikolog: Gen Z Lebih Mudah Depresi

Rahmat Sudrajat • Kamis, 19 September 2024 | 01:26 WIB

 

Psikolog sosial, Ananta Yudiarso (kiri), tempat kejadian peristiwa bunuh diri mahasiswi universitas swasta di Surabaya Barat (kanan).
Psikolog sosial, Ananta Yudiarso (kiri), tempat kejadian peristiwa bunuh diri mahasiswi universitas swasta di Surabaya Barat (kanan).

RADAR SURABAYA - Fenomena tingginya angka bunuh diri di kalangan Generasi Z (Gen Z), termasuk yang baru terjadi menimpa mahasiswi perguruan tinggi swasta di Surabaya Barat, SNV, 20, Rabu (18/9) pagi, dari lantai 22 gedung kampusnya.

Mahasiswa tersebut diduga bunuh diri karena putus cinta. Latar belakang mahasiswi UC tersebut bunuh diri menjadi perdebatan di kalangan masyarakat.

Dimana mereka menganggap Gen Z lebih rapuh dibandingkan dengan kalangan generasi yang lain.

Dimana Gen Z dianggap mudah dalam memutuskan mengakhiri segala sesuatu jika ada permasalahan.

Menurut psikolog sosial, Ananta Yudiarso, depresi dan cemas lebih cepat dialami oleh kalangan Gen Z, sehingga mereka lebih mungkin mengalami depresi yang tidak terdeteksi atau kurang terkelola dengan baik.

Hal inilah yang menjadi alasan utama tingginya angka bunuh diri di kalangan Gen Z.

Apalagi generasi yang sudah ada internet setelah lahir penuh ketidakpastian.

"Gen Z juga lebih terbuka tentang pengalaman trauma, penyalahgunaan, atau pelecehan, yang dapat memperburuk kondisi mental jika tidak diatasi dengan baik. Gangguan seperti PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) atau trauma yang tidak tertangani bisa menyebabkan pikiran bunuh diri," kata Ananta, Rabu (18/9).

Selain itu kurangnya keterampilan dalam mengelola stres dan emosi negatif dapat membuat Gen Z lebih mudah merasa kewalahan oleh masalah-masalah yang mereka hadapi.

Dalam beberapa kasus, mereka mungkin melihat bunuh diri sebagai solusi terakhir untuk mengakhiri penderitaan emosional mereka.

"Masa muda sering kali adalah periode eksplorasi identitas, tetapi di era yang begitu cepat berubah, banyak dari mereka merasa terlalu terombang-ambing dalam membangun identitas diri yang stabil, yang dapat meningkatkan risiko krisis identitas dan perasaan keputusasaan," terangnya.

Ananta juga menyebut puncak tertinggi usia bunuh diri Gen Z di Indonesia terbanyak usia 26-30 tahun.

Sedangkan Gen Z mencakup mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 sehingga tahun 2024 usia mereka berkisar antara 12-27 tahun.

"Jadi usia tersebut masa rentan usia bunuh diri," ujar dosen psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) ini.

Gen Z yang tumbuh di keluarga yang tidak memberikan dukungan emosional atau bahkan mengabaikan isu-isu kesehatan mental bisa merasa kesepian dan tidak memiliki tempat untuk berbagi masalah mereka.

"Meskipun lebih terbuka tentang kesehatan mental, tidak semua Gen Z memiliki akses pada terapi, konseling, atau layanan kesehatan mental lainnya, terutama di wilayah yang sumber daya kesehatannya terbatas," terangnya.

Meski demikian dia berharap kepada masyarakat jangan sampai membuat stigma terhadap Gen Z .

"Yang kita tangkap adalah potensi kerentanan karena perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat," pungkasnya. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#psikolog #putus cinta #UC #buhuh diri karena pacar #depresi #Gen Z #ubaya #universitas ciputra