RADAR SURABAYA - Surabaya selama ini selalu mengkampanyekan bahwa kota ini merupakan kota yang layak dan ramah anak. Baik itu dalam forum-forum formal maupun non formal.
Namun, untuk menjadi kota dengan predikat tersebut tentu ada sejumlah hal yang harus diperhatikan. Salah satunya kebutuhan infrastruktur.
Pemerhati Pendidikan dan Perlindungan Anak Jawa Timur, M. Isa Ansori mengatakan, dalam mewujudkan kota layak anak ini, ada sejumlah aspek yang harus diperhatikan pemerintah.
Hal itu adalah terciptanya lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Baik itu secara fisik, mental, sosial, hingga emosionalnya.
Dalam prosesnya, jika orang tua yang bertugas mengasuh dan merawat tumbuh kembang anak.
Maka pemerintah punya kewajiban unyuk menyiapkan program pendamping mulai dari masih usia anak-anak hingga mereka dewasa di kemudian hari.
Pemerintah mulai saat ini harusnya sudah punya data base anak-anak hingga mereka yang sudah calon pengantin.
"Sehingga apa, arah pembangunan Surabaya untuk menuju kota layak anak di tahun 2030 itu bisa presisi untuk diwujudkan," kata Isa.
Menyiapkan kota layak anak ini bukan perkara yang mudah. Ada sejumlah hal yang harus disiapkan.
Infrastruktur yang memadai harus benar-benar men-support kebutuhan anak. Sehingga tumbuh kembang mereka benar-benar terjaga. Sebutlah semisal mengenai transportasi publik.
Transportasi publik ini harus dibuat senyaman, aman, dan seramah mungkin untuk anak.
Termasuk juga keamanannya. Sehingga, anak bisa belajar mobilitias dan kemandirian sejak dini.
Lalu penyediaan fasilitas pendidikan yang mendukung ide inovasi dan kreativitas anak.
"Perpustakaan interaktif yang dilengkapi dengan teknologi seperti Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) akan memberikan pengalaman belajar yang menarik bagi anak-anak. Dengan begitu maka, kota ini mendukung pengembangan intelektual anak melalui cara-cara kreatif dan inovatif, mendorong mereka untuk berpikir kritis sejak usia dini,” urainya.
Tidak kalah penting adalah tersedianya area terbuka hijau untuk kawasan bermain anak.
Hal itu merupakan inti dari kesejahteraan anak. Fasilitas bermain ini menurut Isa akan membangun ketrampilan anak dalam bersosial dengan teman sejawatnya.
"Fasilitas bermain yang terintegrasi dengan lingkungan perkotaan akan menjadi pusat interaksi sosial bagi anak-anak. Pada saat yang sama, anak-anak belajar tentang pentingnya menjaga alam, memperkuat rasa tanggung jawab terhadap lingkungan,” ujarnya.
Perihal layanan kesehatan, Isa berpendapat kalau kondisi kesehatan fisik dan mental anak merupakan fondasi untuk mencapai tumbuh kembang anak yang maksimal.
Pemerintah diwajibkan hadir guna memfasilitasi hal tersebut jika ingin kota layak anak bisa terwujud di Surabaya.
Belum lagi perihal keamanan. Saat ini, masih sering ditemukan adanya kasus kekerasan dan pidanan lainnya yang melibatkan anak. Entah itu fenomena gangster ataupun tawuran dan begal.
Isa berharap, dengan target 2030 Surabaya bisa menjadi kota layak anak, maka pemerintah juga sudah menyiapkan sistem keamanan yang terintegrasi dengan teknologi.
Tujuannya adalah untuk memberikan rasa tenang bagi keluarga, dan memungkinkan anak-anak untuk mengeksplorasi lingkungan mereka tanpa rasa takut.
“Penerapan kebijakan yang mendukung hak anak menjadi bagian dari komitmen Kota Surabaya dan perlindungan terhadap eksploitasi anak menjadi langkah konkret untuk memastikan setiap anak di Surabaya terlindungi dan dapat berkembang secara penuh,” pungkasnya. (dim/nur)
Editor : Nurista Purnamasari