Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Cuaca Panas Menyengat di Surabaya Diprediksi sampai Oktober, Warga Perlu Banyak Cairan

Rahmat Sudrajat • Selasa, 10 September 2024 | 13:21 WIB
Suhu panas terik di Surabaya pada siang hari. Waspadai dehidrasi dan paparan sinar matahari langsung. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)
Suhu panas terik di Surabaya pada siang hari. Waspadai dehidrasi dan paparan sinar matahari langsung. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA  -  Musim kemarau di Surabaya masih berlangsung diprediksi hingga Oktober mendatang. Bahkan suhu tertinggi tercatat bisa mencapai 35-36 derajat Celsius. 

Kooordinator Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maritim Tanjung Perak Ady Hermanto  menyebut wilayah Surabaya dan sekitarnya masih mengalami panas terik lantaran tutupan awan cukup minum. Akibatnya sinar matahari bisa langsung menuju ke permukaan bumi tanpa ada halangan.

Kemudian saat musim kemarau juga ada beberapa daerah yang vegetasinya mulai mengering dan permukaaan bumi tidak cukup basah akibat minimnya jumlah air yang ada di permukaan. "Beberapa faktor tersebut menambah sensasi panas yang dirasakan oleh masyarakat," kata Ady di Surabaya, Senin (9/9).

Kondisi panas terik diprediksi hingga Oktober mendatang. Sebab saat ini posisi matahari menuju ke khatulistiwa. "Sekitar awal hingga pertengahan Oktober masuk wilayah Surabaya. Jadi, sensasi rasa panasnya masih bisa sampai beberapa minggu ke depan," jelasnya.

Ady menyebut untuk suhu tertinggi mencapai 35-36 derajat Celsius. Terutama di wilayah yang berada di utara Jatim. Sedangkan wilayah selatan Jatim masih normalnya.

Adanya pengaruh La Nina dalam kategori lemah menyebabkan sebagian kecil daerah turun hujan di saat musim kemarau. Sebab pasokan uap air di atmosfer masih cukup signifikan.

Sementara itu, peningkatan suhu bisa berdampak pada kondisi kesehatan karena cairan yang ada di dalam tubuh akan menguap. Selain itu komposisi tubuh manusia terdiri dari cairan sebanyak 60 persen.

"Pada kondisi normal, ketika cairan keluar saat suhu panas maka akan diseimbangkan dengan keringat agar suhu jadi lebih dingin,” kata dokter spesialis saraf Rumah Sakit Universitas Airlangga Dr dr Abdulloh Machin SpS(K) 

Beberapa tanda dan gejala yang bisa diwaspadai saat musim panas seperti pusing, berkunang-kunang, banyak berkeringat, dan terasa nyeri. Hilangnya cairan dalam tubuh juga dapat menyebabkan gangguan pada organ tubuh lain.

"Suhu panas akan melepaskan zat perangsang peradangan yang bisa merusak otak, ginjal, hati, dan proses pembekuan darah,” ujarnya.

“Kalau sudah ada tanda dan gejala cari tempat yang dingin misal masuk gedung yang ada AC-nya,” paparnya.

Dia menyebut tidak ada ukuran pasti cairan tubuh yang dibutuhkan pada kondisi cuaca ekstrem. Namun dibutuhkan cairan yang lebih banyak. Ia berpesan untuk menambah asupan cairan yang masuk dalam tubuh saat cuaca panas.

“Minumlah air lebih banyak dibanding biasanya. Misal biasa minum delapan gelas sehari bisa ditambah 10 gelas atau lebih tergantung cuaca,” pungkasnya. (rmt)

Editor : Lambertus Hurek
#Suhu panas Surabaya #panas terik #puncak musim kemarau #Musim kemarau 2024 #dehidrasi akibat cuaca panas ekstrem