RADAR SURABAYA - Permasalahan hunian layak hingga sekarang masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
Selain jumlah antrean mengenai usulan perbaikan rutilahu yang memanjang.
Antrean untuk warga yang ingin tinggal di rumah susun sederhana sewa (rusunawa) pun juga tak kalah panjangnya.
Bahkan, informasi yang berhasil dihimpun Radar Surabaya menyebutkan, ada sebanyak 10.754 KK yang saat ini tengah antre untuk bisa menjadi penghuni rusunawa.
Hal ini tentu menjadi ironi bagi kota besar dengan anggaran yang mencapai angka Rp 12,3 triliun.
Pemerintah kota sebenarnya memiliki segudang program untuk memenuhi hunian layak bagi warganya itu.
Sebutlah semisal program Dandan Omah dan lain sebagainya. Namun hal itu masih belum cukup untuk mewujudkan hunian layak bagi warganya.
Apalagi masyarakat yang antre untuk bisa dapat program dandan omah juga tak kalah panjangnya dengan antrean rusunawa.
"Bertahap memang harus mulai dipikirkan program hunian murah bagi warga Surabaya. Minimal rumah susun milik atau Rusunami," kata anggota DPRD terpilih dari Fraksi PKB Surabaya Laila Mufidah.
Sementara itu, Kepala UPTD Rusun DPRKPP Kota Surabaya Adinda Setiyoningrum menyampaikan, pemkot juga terus melakukan updating data terkait penghasilan dari masing-masing penghuni rusunawa.
Tujuannya, ketika mereka dinilai sudah bebas dari garis kemiskinan, maka mereka akan direkomkan untuk pindah ke rusunami.
"Apabila jumlah pendapatannya sudah cukup maka akan dilakukan pendekatan agar penghuni tersebut beralih ke rusunami, sehingga unitnya bisa digunakan untuk data antrean yang lain," katanya.
Surabaya sendiri menurut dia sebenarnya punya 25 titik rusunawa dengan total jumlah 5233 unit hunian.
Sayangnya, angka itu memang masih belum bisa mengakomodir seluruh antrean calon penghuni saat ini.
Sebab, dia mengaku, seluruh unit milik pemkot itu saat ini sudah terisi semuanya.
"Untuk data antrian kami klasifikasikan. Apabila ada unit tersedia, kami prioritaskan antrian yang masuk dalam data gamis dan kami urutkan dari antrian terlama," ujarnya. (dim/nur)
Editor : Nurista Purnamasari