RADAR SURABAYA - Kapasan Dalam pernah dikenal sebagai Kampung Kungfu di Surabaya. Sebab, warga Tionghoa di sekitar Kelenteng Boen Bio aktif berlatih seni bela diri silat khas Tionghoa yang dikenal sebagai kuntau atau Kun Thauw.
Dalam perkembangannya, perguruan kuntao sempat mati suri selama masa Orde Baru. Olahraga bela diri khas Hokkian ini dipraktikkan secara diam-diam di rumah sejumlah guru atau laoshi di rumah masing-masing.
Salah satu guru senior kuntau di Kapasan adalah The Kang Hay. Ia dikenal sebagai guru besar dan pendiri perguruan silat Kun Thauw di Boen Bio Surabaya. The Laoshi meninggal dunia empat tahun lalu.
"Beliau dikenal sebagai laoshi yang sangat disiplin, telaten, teliti, dan sabar dalam melatih kuntau di sini. Mulai dari anak-anak sampai orang lanjut usia," kata Yongky, pengurus Kunthauw Boen Bio Surabaya.
Menurut Yongky, kuntau atau kunthauw alias kuntao yang dikembangkan di Boen Bio Surabaya bukan sekadar olahraga biasa. Guru The selalu menanamkan moral, budi pekerti, dan integritas kepada anggota yang mengikuti latihan bersama. Karakter yang mulia itulah yang hendak diwariskan kepada generasi muda.
Nah, agar warisan Guru The ini tidak hilang sekaligus mengembalilan reputasi Kapasan Dalam sebagai Kampung Kungfu, maka dibentuklah Perguruan Silat Kunthauw Boen Bio. Meski masih berusia empat tahun, anggotanya sudah puluhan orang. Mulai anak-anak usia sekolah dasar hingga lanjut usia.
"Mereka yang lansia itu sebenarnya tempo doeloe sudah biasa latihan tapi vakum sangat lama. Sekarang mereka aktif lagi sekaligus membimbing generasi muda," kata Yongky.
Perguruan Silat Kunthauw Boen Bio Surabaya merayakan hari jadi keempat di Graha Boen Bio Surabaya, Rabu (28/8/2024). Sekaligus mengenang empat tahun wafatnya Laoshi The Kang Hay. Ratusan orang memadati Graha Boen Bio di kawasan Jalan Kapasan Surabaya.
Handoko Tjokro, pengurus Makin Boen Bio, menyebut kuntau punya sejarah panjang di Boen Bio. Ia juga salah satu murid kuntao pada tahun 1978. Namun, olahraga bela diri khas Tiongkok ini sempat vakum cukup lama.
"Saat melayat ke mendiang Laoshi The Kang Hay empat tahun lalu, saya melihat banyak mantan murid beliau hadir. Dari situ timbul ide untuk menghidupkan kembali kuntau di Boen Bio hingga saat ini,” tuturnya. (rek)
Editor : Lambertus Hurek