RADAR SURABAYA - Indonesia menjadi kawasan yang berpotensi besar terhadap gempa megathtrust. Pakar geologi ITS Surabaya Dr Amin Widodo menjelaskan Indonesia diapit oleh tiga lempeng dunia, yakni lempeng eurasia, lempeng pasifik dan lempeng samudra.
"Sifat alami ketiga lempeng itu terus bergerak dan menghujam ke permukaan bumi sejak jutaan tahun lalu. Sehingga tumbukan kedua lempeng itu berpotensi menghasilkan gempa megathrust," terang Amien, Kamis (29/8).
Gempa yang bermuatan magnitudo 8,7 ini berpotensi tsunami yang terjadi pada dua wilayah yakni Selat Sunda dan Mentawai-Siberut. Meski begitu, gempa yang bersumber di zona megathrust ini tidak selalu berkekuatan besar.
Data hasil monitoring BMKG menunjukkan, justru gempa kecil lebih banyak terjadi di zona Megathrust.
Masyarakat diimbau untuk tidak panik terhadap gempa yang tidak dapat diprediksi waktunya. Upaya mitigasi megathrust dibutuhkan dengan mematuhi standar bangunan ketika mendirikan rumah.
"Upaya mitigasi Megathrust dengan mematuhi standar bangunan ketika mendirikan. Hal itu sebagai bentuk pencegahan dini terhadap gempa terutama bagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai. Untuk mencegah potensi terjadinya Megathrust besar yang memicu tsunami di pesisir pantai,” terangnya.
Amien menambahkan, Megathrust merupakan gempa yang dipicu oleh tumbukan lempeng dengan kedalaman antara 0-70 kilometer. Terjadinya gempa Megathrust karena adanya hambatan antarbidang lempeng, sedangkan lempeng terus bergerak.
"Megathrust merupakan gempa yang dipicu oleh tumbukan lempeng dengan kedalaman antara 0-70 kilometer (km). Terjadinya gempa Megathrust karena adanya hambatan antarbidang lempeng, sedangkan lempeng terus bergerak," pungkasnya. (rmt)
Editor : Lambertus Hurek