RADAR SURABAYA - Gempa kembali mengguncang daerah Gunung Kidul Yogyakarta Senin lalu dengan kekuatan magnitudo 5,8 skala richter.
Tentu kejadian gempa ini harus segera diantisipasi, apalagi saat ini di beberapa wilayah di Indonesia juga menjadi ancaman adanya gempa megathrust yang bisa terjadi sewaktu-waktu dan mudah terjadi berulang.
Oleh karena itu perlu segera menyiapkan masyarakat untuk bisa tanggap bencana.
Selain itu perlu juga menyiapkan alarm terutama di gedung-gedung bertingkat. Sehingga ketika terjadi goncangan alarm peringatan berbunyi.
Menurut Pakar arsitektur dan perencanaan wilayah kota, Benny Poerbantanoe, alarm peringatan dini baik di gedung atau kantor publik yang bertingkat seharusnya perlu dilengkapi alarm peringatan dini, terutama di Surabaya.
Tak hanya itu juga di pusat kota juga perlu dipasang alarm agar masyarakat bisa segera melakukan evakuasi ke tempat yang lebih aman.
"Perlu ada alarm peringatan dini yang terhubung dengan alat yang peka gempa. Jadi ketika terjadi getaran sedikit langsung berbunyi. Selain itu di pusat dan kawasan lainnya juga seperti perkampungan juga perlu terpasang alarm. Termasuk di daerah pantai atau pesisir," kata Benny, Rabu (28/8).
Pemasangan alarm gempa menurut Benny merupakan standar operasional prosedur (SOP) yang harus dimiliki setiap bangunan atau gedung publik yang ada di dalam sertifikat laik fungsi (SLF) saat dinyatakan kondisi laik fungsi sebelum bangunan digunakan.
"Seharusnya Pemkot mengecek SLF bangunan apakah sudah dilengkapi alarm tanda bencana atau tidak?. Dan langkah ini bisa dilakukan lebih dini dan rutin. Seperti di rumah sakit yang sangat krusial," terangnya.
Tak hanya itu, tempat evakuasi jika terjadi gempa dari bangunan yang bertingkat juga harus diperhatikan.
Terutama tempat keluarnya dari jalur evakuasi dan titik kumpul yang harus steril dari bangunan tunggi.
Ketika alarm dari dalam gedung berbunyi petugas keamanan gedung harus segara mengarahkan ke arah pintu keluar melalui jalur yang aman.
Benny mengaku, selama ini jalur evakuasi kurang diperhatikan dengan baik. Masih banyak arah panah yang menunjukkan jalur evakuasi tidak jelas.
"Alangkah baiknya penanda jalur evakuasi diberikan arah dan panah menuju pintu atau jalur keluar. Kalau bisa pintu keluarnya tidak satu saja tapi terdistribusi pada jarak yang pendek dan waktu yang singkat pada titik kumpul,” ungkap dosen arsitektur Petra Christian University (PCU) Surabaya ini.
“Selain itu juga titik kumpul harus yang benar-benar tidak ada gedung tinggi yang bisa menyebabkan roboh sewaktu-waktu jika kekuatan gempa besar," imbuhnya.
Oleh karena itu, menurut Benny perlu segera dilakukan simulasi atau latihan tanggap bencana.
Karena selama ini dia menilai jarang dilakukan oleh penghuni gedung-gedung bertingkat lebih dari dua.
"Karena kita jarang latihan dan gak siap ketika ada bencana yang terjadi sewaktu-waktu seperti gempa bumi megathrust," tegas Benny.
Selain itu juga perlunya kesadaran masyarakat dalam menjaga mangrove.
Mangrove yang ada di pesisir Surabaya sangat penting untuk menahan gelombang tsunami.
Benny meminta pemerintah kota untuk menjaga mangrove agar tidak ditebang secara sporadis.
"Penanaman mangrove harus terjaga, kan selama ini secara sporadis ditebang oleh oknum. Harusnya dilakukan penjagaan itu secara rutin, karena bahanya sangat vatal ketika harus menebang mangrove di pesisir," tegasnya.
Gempa megathrust merupakan gempa yang dipicu oleh tumbukan lempeng dengan kedalaman antara 0-70 kilometer (km).
Terjadinya gempa megathrust karena adanya hambatan antarbidang lempeng, sedangkan lempeng terus bergerak.
Meski begitu, gempa yang bersumber di zona megathrust tidak selalu berkekuatan besar.
Untuk itu masyarakat diimbau untuk tidak panik terhadap gempa yang tidak dapat diprediksi waktunya.
Upaya mitigasi megathrust dibutuhkan dengan mematuhi standar bangunan ketika mendirikan gedung maupun rumah. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari