Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

CEO Telegram Pavel Durov Ditangkap Saat Mendarat Di Paris, Berikut Penjelasan Kasus dan Profilnya

Agung Nugroho • Senin, 26 Agustus 2024 | 21:23 WIB
CEO Telegram Pavel Durov
CEO Telegram Pavel Durov

RADAR SURABAYA– Pendiri dan CEO aplikasi pesan Telegram telah ditahan di bandar udara Paris berdasarkan surat perintah penangkapan dengan tuduhan platformnya telah digunakan untuk pencucian uang, perdagangan narkoba, dan pelanggaran lainnya, berita ini dikabarkan langsung oleh media Paris , Minggu (25/8).

Kabar yang disiarkan TF1 TV dan BFM TV, Pavel Durov yang merupakan warga negara ganda Prancis-Rusia.

Dia ditahan di Bandara Paris-Le Bourget pada Sabtu pukul 20.00 malam setelah mendarat dari jet pribadinya rute Prancis dari Azerbaijan (24/8).

Meski kabar tersebut disiarkan oleh media Prancis, namun keduanya mengutip dari sumber yang tidak diketahui namanya.

Penangkapan dilakukan oleh polisi militer perhubungan udara (GTA).

Pria 39 tahun tersebut saat penangkapan didampingi oleh para pengawalnya dan seorang wanita.

Media Prancis melaporkan bahwa surat perintah penangkapan Durov dikeluarkan oleh Prancis atas permintaan unit khusus di Kementerian Dalam Negeri yang bertugas menyelidiki kejahatan anak di bawah umur.

Kejahatan tersebut meliputi eksploitasi seksual daring, seperti kepemilikan dan distribusi konten pelecehan seksual anak dan promosi untuk tujuan seksual.

Durov dituduh gagal mengambil langkah-langkah untuk penggunaan Telegram dengan tujuan criminal.

Aplikasi ini dituduh gagal bekerja sama dengan penegak hukum terkait perdagangan narkoba, konten seksual anak, dan penipuan.

Telegram sebelumnya membantah memiliki moderasi yang tidak memadai.

“Telegram mematuhi hukum Uni Eropa, termasuk Undang-Undang Layanan Digital,” kutip Telegram dalam sebuah pernyataan pada, Minggu (25/8).

“CEO Telegram Pavel Durov tidak menyembunyikan apapun dan sering bepergian ke Eropa. Tidak masuk akal untuk mengklaim bahwa suatu platform atau pemiliknya bertanggung jawab atas penyalahgunaan platform tersebut,” tambahnya.

Kedutaan Besar Rusia di Prancis mengatakan kepada kantor berita negara Rusia TASS, bahwa mereka tidak dihubungi oleh tim Durov setelah laporan penangkapan tersebut, tetapi mereka mengambil langkah ‘segera’ untuk mengklarifikasi situasi tersebut.

Pemiliki X, Elon Musk, yang telah menghadapi banyak kritik atas moderasi dan materi yang dihosting oleh situs media sosialnya, berulang kali memposting tentang situasi tersebut.

Ia memberi tagar #freepavel pada satu unggahan, dan pada unggahan lain menulis, “POV (sudut pandang) : Saat ini tahun 2030 di Eropa dan anda dieksekusi karena menyukai sebuah meme,”

Telegram memperbolehkan grup dengan anggota sebanyak 200.000 orang yang menurut para kritikus memudahkan penyebaran informasi yang salah dan memudahkan pengguna untuk membagikan konten konspirasi, neo-Nazi, pedofilia, atau terkait teror.

Telegram memang menghapus beberapa grup, tetapi secara keseluruhan sistem moderasi konten ekstremis dan ilegalnya jauh lebih lemah dibandingkan perusahaan media sosial dan aplikasi pesan lainnya, kata pakar keamanan siber.

Durov sendiri lahir di Rusia pada tanggal 10 Oktober 1984.

Namun, Durov meninggalkan tanah kelahirannya tersebut pada tahun 2014 setelah menolak untuk mematuhi tuntutan pemerintah untuk menutup komunitas oposisi di platform media sosial miliknya VKontakte (VK), dan kemudian ia jual.

Dilansir dari Forbes, Durov meninggalkan Rusia setelah menolak kerja sama dengan badan rahasia Rusia dan memberikan data terenkripsi dari pengguna sosial media pertamanya.

Meski lahir di Rusia, Durov menghabiskan masa kecilnya di Turin, Italia, tempat ayahnya bekerja.

Selain itu, Durov juga menempuh Pendidikan di Saint Petersburg State University dan lulus pada tahun 2006. Ditahun ini juga Durov mendirikan VKontakte bersama dengan Ilya Perekopsky.

Setelah mendirikan VK Durov kembali mendirikan sebuah aplikasi Telegram pada tahun 2013, Durov dan kantor pusat Telegram pindah ke Dubai pada tahun 2017.

Selain VK dan Telegram, Durov bersama saudaranya Nikolai juga pernah membuat system blockhain bernama TON dan mereka berhasil mengumpulkan dana sebesar US$1,7 miliar dari para investor untuk menciptakan perusahaan ini.

Baca Juga: Wolves vs Chelsea, Noni Madueke Cetak Hat-trick dalam Waktu 14 Menit Berkat Tiga Assist Cole Palmer saat Enzo Maresca Raih Poin Pertamanya

Sayangnya, system ini ditutup setelah Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika melarangnya.

Pada Agustus 2021, Durov menjadi warga negara Prancis.

Menurut media Prancis, Durov juga menerima kewarganegaraan Uni Emirat Arab (UEA).

Ia juga merupakan warga negara St. Kitts and Nevis, negara kepulauan ganda di Karibia.

Kekayaan Durov yang diperkirakan oleh Forbes mencapai US$15,5 miliar hingga membuat pria tersebut tercatat sebagai orang terkaya nomor 122 di dunia.

Dalam perjalanannya tersebut, beberapa pihak menyebutkan Durov sebagai Zuckerbergnya Rusia karena membuat VK pada usia 22 tahun.

Hubungan Durov dan Rusia tidak berhenti saat ia meninggalkan tanah kelahirannya tersebut.

Rusia memblokir Telegram pada tahun 2018 hingga 2021, setelah aplikasi tersebut menolak untuk mematuhi akses kepada layanan keamanan negara ke pesan terenkripsi milik penggunanya.

Pemblokiran tersebut dihentikan usai Telegram menyetujui untuk melawan terorisme dan ekstremisme di platformnya.

Diketahui saat ini, Telegram menduduki peringkat pertama di Rusia, Ukraina dan negara-negara bekas Uni Soviet sebagai salah satu platform media sosial setelah Facebook, Youtube, WhatsApp, Instagram, TikTok, dan Wechat. Saat ini Telegram memiliki lebih dari 900 juta pengguna aktif di dalamnya.(bel/mag/nug)

 

Editor : Agung Nugroho
#Pavel Durov ditangkap di paris #keamanan siber #platform digital #Pavel Durov CEO telegram #pencucian uang