RADAR SURABAYA - Transportasi publik belum digemari di Surabaya. Masyarakat lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi.
Pakar transportasi ITS Surabaya Machsus Fawzi mengatakan, pengelolaan transportasi publik di Surabaya masih perlu pembenahan. Khususnya manajemen yang masih terpisah.
Bus Trans Semanggi dikelola oleh pusat. Suroboyo Bus dan Feeder dikelola Pemkot Surabaya. Trans Jatim dikelola oleh Pemprov Jatim.
"Hal ini membuat transportasi publik di Surabaya masih kurang ideal dalam proses integrasi. Sebaiknya dalam satu pengelolaan. Pusat, pemkot dan pemprov harus duduk bareng untuk menyamakan frekuensi. Kata kuncinya perlu integrasi transportasi," kata Machsus, Jumat (23/8).
Ketika transportasi terintegrasi maka satu tiket bisa digunakan untuk tiket terusan. Saat ini yang terjadi tiket masih berbeda-beda, sehingga membuat tiket mahal. Masyarakat saat berpindah transportasi harus membeli lagi tiket.
"Distribusi tidak merata, jadwal belum tentu bisa sinkron. Selain tiket juga integrasi rute diatur sehingga bisa nyambung dari sisi rute dan waktu," tegas dosen ITS ini.
Machsus menyebut saat ini okupansi transportasi di Surabaya masih belum merata. Ada yang okupansi bagus dan ada yang masih rendah. "Kadang-kadang kosong dan tidak optimal."
Daya angkut Trans Jatim masih 1 persen dibanding Trans Jakarta. Padahal penduduk gerbangkertasusila hampir sama dengan penduduk DKI Jakarta.
"Di Jakarta sehari bisa satu juta orang yang terangkut. Di Jawa Timur masih 2-3 persen. Masih banyak yang belum berpindah dari angkutan pribadi ke publik," ungkap Machsus. (rmt)
Editor : Lambertus Hurek