RADAR SURABAYA - Bayi kembar siam yang berusia empat bulan akhirnya berhasil dilakukan pemisahan oleh tim dokter RSUD Dr Soetomo, Surabaya.
Bayi kembar siam yang berasal dari Tulungagung ini telah dipisahkan dari dempet pantat atau pygopagus yang berlangsung pada 16 Agustus lalu.
Dirut RSUD dr Soetomo, Surabaya Prof dr Cita Rosita Sigit Prakoeswa menjelaskan, pemisahan Arsenio dan Arselo memiliki tantangan tersendiri dalam proses penanganan kembar siam.
Untuk itu, selama proses pemisahan kembar siam, pihaknya melibatkan puluhan dokter ahli. Termasuk ahli anestesi.
Sebab, dalam kasus pygopagus dipastikan ada beberapa organ yang menjadi satu.
“Misalnya soal saraf itu ada yang menjadi satu, dan prosesnya harus dipisah, contoh lainnya yang dipisah juga otot,” kata dr Cita, Selasa (20/8). Bagi dia, RSUD dr Soetomo bukan kali pertama melakukan operasi dan penanganan pada kembar Siam.
Hingga kini tercatat sudah 124 kasus yang ditangani. Lalu dua kasus diantaranya tengah menunggu giliran.
Tim dokter pun berhasil memisahkan keduanya. Namun, selang beberapa jam usai pemisahan, nyawa Arsenio tak tertolong lantaran infeksi paru-paru.
“Yang bertahan Arselo, Arsenio tidak tertolong setelah beberapa jam operasi. Tim kami juga melakukan berbagai upaya, termasuk pijat jantung,” tuturnya.
Dia mengungkapkan, sejak kedatangan dua bayi tersebut sudah dalam kondisi kurang baik.
Sehingga tim dokter, secara langsung melakukan operasi emergency.
Hingga kini, putra pasangan asal Tulungagung Yoga Askha dan Yeni Dwi itu terus dalam pemantauan tim dokter. Khususnya Arselo yang hingga kini menjalani perawatan di ruang khusus.
“Sejauh ini kondisi Arselo baik dan stabil, tim juga melakukan pemeriksaan berkala untuk memantau perkembangannya,” terang dr Cita.
Sementara itu, dokter ahli anestesi dr Kohar Hari Santoso membenarkan bahwa kondisi bayi saat dirujuk ke RSUD Dr Soetomo dalam kondisi kurang baik.
Pihaknya berusaha melakukan perhitungan matang dalam proses pemisahan bayi laki-laki itu.
“Pemeriksaan awal juga kami lakukan berkala, juga melihat dan menunggu kondisinya stabil. Karena tidak kunjung stabil jadi dipercepat,” ungkap dr Kohar.
Dia juga mengatakan, hingga kini berada di ruangan ICU. Salah satu kestabilan, juga terlihat dari kerasnya tangisan bayi.
“Pagi tadi bayi sudah bisa minum dan menangis kuat, kami terus kontrol secara berkala,” ujarnya.
Terkait luka bekas operasi separasi pada bagian pantat, pihaknya juga melibatkan ahli bedah plastik untuk memantau kondisi luka setiap waktu. “Tim bedah plastik juga terlibat," tuturnya.
Orang tua bayi kembar siam, Yenni Dwi, 26, menceritakan selama proses kehamilan tidak mendapati kecurigaan atas kembar Siam.
Dia mengaku, hanya mengetahui jika bayi yang dikandungnya itu kembar seperti pada umumnya.
"Cuma saat kandungan usia tujuh bulan ada kecurigaan, tapi saat USG kondisi bayi baik dan sempat posisi 69,” ungkapnya.
Atas kondisi itu, Yenni tidak ada anggapan tentang kembar siam. Sehingga kondisi itu, pihaknya tidak melanjutkan pemeriksaan USG Fetomaternal atau sub spesialisasi dari bagian kandungan dan kebidanan. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari