Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sampah Plastik dari Australia Meningkat, Aktivis Lingkungan Gelar Aksi dan Ajukan Surat Tuntutan ke Konjen

Rahmat Sudrajat • Selasa, 20 Agustus 2024 | 05:56 WIB
TOLAK SAMPAH IMPOR: Sejumlah aktivis lingkungan yang tergabung dalam Ecoton Foundation, menggelar aksi tolak sampah impor asal Australia karena dianggap meracuni bayi, di depan kantor Konjen Australia
TOLAK SAMPAH IMPOR: Sejumlah aktivis lingkungan yang tergabung dalam Ecoton Foundation, menggelar aksi tolak sampah impor asal Australia karena dianggap meracuni bayi, di depan kantor Konjen Australia

RADAR SURABAYA - Aktivis lingkungan dari Yayasan Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton Foundation) kembali menggelar aksi di depan kantor Konsulat Jenderal (Konjen) Australia di Surabaya, Senin (19/8).

Dalam aksi tersebut puluhan aktivis lingkungan menggunakan hazmat berwarna putih.

Mereka membawa boneka bayi dari bahan sampah plastik sebagai bentuk protes dan mendesak agar Australia berhenti mengirimkan sampah plastik ke Indonesia.

Sempat terjadi negoisasi alot ketika Ecoton Foundation hendak memasukan surat tuntunan ke Konjen Australia.

Pasalnya tuntutan aksi yang dulu belum juga ditanggapi, sehingga pihaknya kembali mengirimkan surat tuntunan kembali.

Akhirnya perwakilan dari Konjen Australia menemui massa untuk membawa surat tuntutan tersebut.

"Kemarin belum ada respons dari pihak Konjen Australia, minimal membalas surat resmi dari kami. Akhirnya kami lakukan kembali pengiriman tuntutan ini agar bisa dijawab secara formal oleh Konjen Australia terkait tanggung jawab pengiriman sampah plastik di Indonesia," kata koordinator aksi, Alaika Rahmatullah.

Dia mengaku sepanjang 2024 sampah plastik yang dikirim ke Indonesia mengalami peningkatan.

Hal ini setelah dilakukan tracking di desa Wirobiting, desa Gedangrowo serta desa lain di sekitar pabrik kertas pengimpor sampah kertas di Jawa Timur menumpuk sekitar 50.000-60.000 ton sampah plastik.

"Selama, 2024 sebanyak 60-82 persen sampah kertas Australia dikirim ke Indonesia. Australia juga mengekspor scrap plastik dan Indonesia tetap menjadi tujuan nomor satu ekspor sampah scrap plastik Australia. Hal ini terus meningkat bahkan setiap bulannya mengirim sekitar 150-200 kontainer sampah plastik ke Indonesia periode 2024 dan bertambah 50.000-60.000 ton sampah plastik. Jumlah ini lebih banyak dari volume sampah yang dihasilkan dan dikelola TPA Benowo Kota Surabaya," terang Alaika.

Bahkan selama Agustus telah melakukan penelitian di outlet pembuangan limbah pabrik kertas.

Hasilnya ditemukan kontaminasi logam berat berat seperti timbal, merkuri dan cadmium.

Ini sangat berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia karena terbuang di Sungai Brantas.

Apalagi sungai ini mengalir melalui daerah padat.

"Senyawa kimia yang sangat beracun dan dikenal sebagai salah satu polutan paling berbahaya bagi kesehatan manusia. Senyawa ini dihasilkan dari pembakaran sampah plastik. Di lokasi dumpingsite sampah plastik impor di Desa Gedangrowo dan Desa Wirobiting Kabupaten Sidoarjo sampah plastik tersebut juga di bakar untuk mengambil kawat yang melilit pada scrap plastik. Bahkan scrap plastik juga dijadikan sebagai bahan bakar di sentra pabrik tahu di desa Tropodo," ungkapnya.

Pencemaran lingkungan akibat sampah plastik impor dari Australia telah menimbulkan kekhawatiran serius di Jawa Timur, terutama terkait dengan dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia.

Ecoton mengungkap dalam partikel feses sebanyak 17 partikel per 10 gram, plasenta ibu hamil 12 partikel per 4 plasenta, pada sperma 0,45 partikel/mL, pada air susu ibu (ASI) 2,3 partikel/mL.

"Sementara itu, temuan Ecoton di udara Kabupaten Sidoarjo mendapatkan 21,8 partikel/jam," tuturnya.

Oleh karena itu para aktivis menuntut kepada Konjen Australia salah satunya untuk segera menghentikan pengiriman sampah plastik ke Indonesia, dan mengutamakan pendekatan yang lebih bertanggung jawab dalam pengolahan sampah di negaranya sendiri.

Australia harus memberikan transparansi terkait jumlah impuritas yang disusupi pada kontainer sampah kertas yang dikirimkan ke Indonesia.

Alaika juga mengaku selain Australia, juga ada Korea, Italia serta Jepang.

Namun data terbaru dia menyebut untuk Jepang yang mengirimkan sampah plastik ke Indonesia mulai berkurang.

"Jepang pengiriman sampahnya sudah mulai menurun. Dan beberapa waktu lalu surat kami juga sudah diterima oleh Konjen Jepang," pungkasnya. (rmt/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#Lingkungan #baju hazmat #Australia Award #surabaya #popok bayi sehat #Ecoton Foundation #sampah plastik #konjen australia #kesehatan manusia