RADAR SURABAYA - Aktivis lingkungan dari Yayasan Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton Foundation) menggelar aksi di depan kantor Konsulat Jenderal (Konjen) Australia di Surabaya, Senin (19/8).
Dalam aksi tersebut puluhan aktivis lingkungan menggunakan hazmat berwarna putih dan membawa boneka bayi dari bahan sampah plastik sebagai bentuk protes atas kiriman sampah plastik ke Indonesia.
Akhirnya perwakilan dari Konjen Australia menemui massa untuk membawa surat tuntutan tersebut.
"Kemarin belum ada respons dari pihak Konjen Australia, minimal membalas surat resmi dari kami. Akhirnya kami lakukan kembali pengiriman tuntutan ini agar bisa dijawab secara formal oleh Konjen Australia terkait tanggung jawab pengiriman sampah plastik di Indonesia," kata koordinator aksi, Alaika Rahmatullah.
Dia menyebut sepanjang 2024 sampah plastik yang dikirim ke Indonesia mengalami peningkatan. Hal ini setelah dilakukan tracking di Desa Wirobiting, Gedangrowo, serta desa-desa lain di sekitar pabrik kertas pengimpor sampah kertas di Jawa Timur. Diperkirakan sekitar 50 ribu sampai 60 ribu ton sampah plastik.
"Selama tahun 2024 sebanyak 60-82 persen sampah kertas Australia dikirim ke Indonesia. Australia juga mengekspor scrap plastik dan Indonesia tetap menjadi tujuan nomor satu ekspor sampah scrap plastik Australia" terang Alaika.
Selama Agustus ini pihak Ecoton melakukan penelitian di outlet pembuangan limbah pabrik kertas. Ditemukan kontaminasi logam berat berat seperti timbal, merkuri dan kadmium. Ini sangat berbahaya karena terbuang di Sungai Brantas.
"Senyawa kimia yang sangat beracun dan dikenal sebagai salah satu polutan paling berbahaya bagi kesehatan manusia. Senyawa ini dihasilkan dari pembakaran sampah plastik," tegasnya.
Alaika menyebut selain Australia, juga ada kiriman sampah plastik dari Korea, Italia serta Jepang. "Tapi Jepang pengiriman sampahnya sudah mulai menurun. Dan beberapa waktu lalu surat kami juga sudah diterima oleh Konjen Jepang," pungkasnya. (rmt)
Editor : Lambertus Hurek