RADAR SURABAYA - Wage Rudolf (WR) Soepratman adalah seorang komposer dan pencipta lagu Indonesia Raya.
Gesekan biola dan nyanyian Indonesia Raya saat kongres Pemuda Kedua pada 27-28 Oktober 1928, membuat hidup WR Soepratman tidak tenang.
WR Soepratman diawasi terus oleh Belanda karena dianggap memprovaksi dengan kata merdeka di lagu Indonesia.
Ketika itu WR Soepratman melarikan diri ke Surabaya. Dalam pelariannya ke Surabaya selama kurang lebih delapan bulan, WR Soepratman sempat ditangkap oleh Belanda.
Budi Harry, cucu Gijem Soepratinah, adik WR Soepratman, Budi Harry, mengatakan saat penangkapan WR Soepratman dibawa ke Penjara Kalisosok, Surabaya.
Ketika itu, Budi menyebut kondisi WR Soepratman sudah sakit akibat paru-paru basah.
"Mungkin ketika itu juga ada sisi humanis Belanda untuk tidak menahan sehingga langsung dikembalikan ke rumah di jalan Mundu (saat ini Jalan Mangga, Red) Tambaksari, Surabaya," kata Budi.
Kondisinya kian memburuk sampai akhirnya WR Soepratman yang tinggal di rumah tersebut bersama kakak dan adik perempuannya, menghembuskan nafas terakhir 17 Agustus 1938 dan dimakamkan di Jalan Tambak Segaran Wetan Surabaya.
"Saat meninggal dunia, di kasur beliau ada secarik kertas berjudul ‘selamat tinggal’," tuturnya.
WR Soepratman lahir di Jatinegara, Jakarta Timur, 9 Maret 1903 dan beragama Islam.
Ketika meninggal dunia dimakamkan secara Islam.
Budi yang juga ketua Yayasan WR Soepratman lebih lanjut menjelaskan lagu ciptaan WR Soepratman terakhir berjudul Matahari Terbit sempat dinyanyikan oleh Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) di Studio Radio Nederlansch Indische Radio Omroep (NIROM) yang terletak di Jalan Embong Malang, Surabaya.
Lagu itu dianggap membela kepada Jepang sehingga membuat Belanda ketika itu kebakaran jenggot.
"Gara-gara lagu Matahari Terbit dalam lagu tersebut dianggap pro terhadap Jepang. Ciptaan beliau (WR Soepratman, Red) terakhir di tahun 1937. Namun karena tidak ada bukti yang kuat pro terhadap Jepang akhirnya Belanda melepaskan," pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa