RADAR SURABAYA - Upaya penuntasan kemacetan terus dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
Salah satunya dengan menambah jumlah armada angkutan Suroboyo Bus dan WiraWiri.
Namun, hal ini dinilai masih belum cukup untuk menjadi solusi penuntasan kemacetan di Kota Pahlawan.
Wakil Ketua DPRD Surabaya A Hermas Thony menyampaikan, permasalahan kemacetan tidak bisa serta merta kemudian menambah jumlah armada transportasi publik saja.
Perlu adanya kajian mendetail mengenai wilayah mana yang paling banyak peminat dan membutuhkan angkutan transportasi ini.
"Ini membutuhkan penginderaan yang lebih mendalam. Sebetulnya yang paling membutuhkan transportasi publik ini segmen masyarakat yang mana. Dari mana menuju ke mana. Kalau ingin memaksimalkan transportasi publik, variabel pertimbangannya bukan pada jumlah armada tapi lebih ke kebutuhan masyarakat," kata Thony, Jumat (16/8).
Kajian mendalam ini dianggap sangat penting sebelum melakukan penambahan armada ini.
Hal ini berkaca pada era pemerintahan yang sebelumnya, dimana Pemkot Surabaya menyediakan lahan parkir umum dengan tujuan, masyarakat dari rumah bisa memarkir kendaraan ke titik terdekat pemberhentian angkutan kota.
Sayangnya, upaya itu juga tidak begitu efektif dalam menekan angka mobilitas pengguna kendaraan pribadi di Surabaya.
"Masyarakat merasa repot jika harus parkir lalu naik angkutan atau diantar jemput ke titik angkutan kota oleh keluarga. Belum lagi, efisiensi menggunakan angkutan kota seperti bus katakanlah, kita belum punya jalur khusus jadi waktu tempuh pun tidak bisa diprediksi," tutur legislator Gerindra itu.
Memang, dia mengakui kalau terjadi peningkatan jumlah penumpang angkutan kota utamanya WiraWiri, hal itu wajar terjadi.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi. Salah satunya seperti, warga sudah banyak mengenal dan mengetahui rute dan operasionalnya.
Kemudian yang kedua adalah dihapusnya rute angkutan seperti bemo di Surabaya.
"Munculnya feeder jadi salah satu opsi transportasi. Kalau dari dishub menyampaikan ada kenaikan penumpang ya itu wajar. Kalau penambahan unit armada feeder yang menembus sampai ke area pinggiran kota, itu upaya peningkatan. Kalau itu dikatakan bisa menyelesaikan kemacetan, saya rasa itu masih jauh," urainya.
Sebab, dia menjelaskan, pengguna kendaraan pribadi ini masih sangat banyak jumlahnya di Surabaya.
Transportasi publik saat ini, seperti Suroboyo Bus, menurut AH Thony juga masih belum begitu maksimal.
Ada kesan, masyarakat cenderung lebih menyukai pemakaian kendaraan pribadi.
"Utamanya yang motor. Dengan motor, mereka mengaku kalau lebih luwes dan waktu tempuhnya cepat dan lebih hemat dibanding transportasi umum," ujarnya.
Maka dari itu, dia mendorong pemerintah melakukan pengkajian lebih dalam lagi mengenai penambahan armada ini.
Belum lagi, Thony mengaku juga mendengar dari rapat-rapat di dewan, biaya perawatan pun perlu dipikirkan.
Karena ada beberapa armada seperti bus yang rusak dan belum diperbaiki.
"Jadi penambahan anggaran memang ada untuk penambahan feeder. Kalau memang ditambah maka harus dihitung siapa yang membutuhkan tidak sekadar menambah dan menghubungkan dari titik A ke B. Selain itu, edukasi juga dibutuhkan untuk lebih masif pada masyarakat agar menggunakan angkutan umum," pungkasnya. (dim/opi)
Editor : Nofilawati Anisa