RADAR SURABAYA - Sebanyak 10 ribu KK saat ini masih mengantre menanti giliran untuk bisa menempati hunian di rumah susun sewa (rusunawa) milik Pemkot Surabaya. Sebab, saat ini seluruh rusunawa milik pemkot kondisinya masih penuh.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengungkapkan, saat ini memang sedang terdapat antrean dari para calon penghuni yang mendaftar di aset pemkot itu. Eri mengaku, sejumlah upaya sedang dilakukan pemerintah kota guna mengatasi antrean yang membludak itu.
"Iya memang betul ada antrean itu. Tapi kita kan juga akan melihat, sebenarnya kebutuhannya itu seperti apa. Karena rusunawa ini seperti yang pernah kita bahas dengan DPRD, terkait pemeliharaannya juga perlu diperhatikan," kata Eri.
Eri melanjutkan, jangan sampai, karena kebutuhan yang mendesak ini, kemudian dilakukan penambahan pembangunan unit, lalu pemeliharaannya tidak berjalan maksimal. Oleh karena itu, pemkot saat ini juga tengah fokus terkait optimalisasi rusunami.
"Semoga itu (rusunami) bisa jalan nanti. Rusunami ini kita bergerak dengan pusat juga. Jadi sekarang sudah ada yang bekerja sama dengan Yekape. Yekape sedang membangun rusunami," ucapnya.
Di sisi lain, Kepala UPTD Rusun DPRKPP Kota Surabaya Adinda Setiyoningrum total yang mengantri untuk jadi penghuni rusunawa ini berjumlah 10.754 KK. Pemkot menurut dia saat ini telah melakukan pendataan terkait penghasilan para penghuni di masing-masing unit.
"Nantinya akan dilakukan klasifikasi, apabila jumlah pendapatannya sudah cukup maka akan dilakukan pendekatan agar penghuni tersebut beralih ke rusunami, sehingga unitnya bisa diberikan kepada data antrian," tuturnya.
Surabaya menurut dia memiliki 25 titik lokasi rusun total 109 blok. Dari angka itu, total ada 5233 unit hunian yang bisa ditinggali dan kondisinya tengah penuh. Dia mengaku, terkait data antrean calon penghuni, dinas tengah melakukan pengecekan terkait data kependudukan mereka.
"Persyaratan permohonan rusunawa harus KK Surabaya. Untuk data antrian kami klasifikasikan. Apabila ada unit tersedia, kami prioritaskan antrian yang masuk dalam data gamis dan kami urutkan dari antrian terlama," pungkasnya. (dim/jay)
Editor : Jay Wijayanto