RADAR SURABAYA - Pemilihan Gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim) 2024 yang akan digelar 27 November mendatang dipastikan tidak hanya diikuti pasangan calon (paslon) tunggal yakni petahana melawan bumbung kosong.
Pasalnya, PKB dan PDI Perjuangan menunjukkan sinyal akan menyiapkan calon untuk melawan paslon petahana, Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak, yang sampai saat ini menjadi satu-satunya pasangan yang sudah mengantongi rekomendasi dari beberapa partai politik (parpol).
"Kalau lawan bumbung kosong kok saya rasa tidak ya. Karena PDIP sudah menyebutkan sedang menyiapkan lawan tanding untuk Khofifah - Emil," kata pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura, Surokim Abdussalam, kepada Radar Surabaya, Jumat (9/8).
Surokim menambahkan pasangan Tri Rismaharini - KH Marzuki Mustamar akan menjadi lawan yang kompetitif bagi Khofifah - Emil. Hanya saja, menurutnya, PKB yang digadang-gadang mengusung pasangan ini harus realistis.
"Elektabilitas Risma harus diakui lebih tinggi dibandingkan Kiai Marzuki. Sosok Kiai Marzuki itu memiliki kekuatan simbolik, jadi agak berat jika dipasang ke nomer satu," jelasnya.
Lebih lanjut Surokim mengatakan jika PKB mengajukan nama Gus Halim (Halim Iskandar), masih bisa diterima publik. "Namun kalau PKB minta Gus Halim jadi nomor satu, itu yang agak sulit. Kita tahu elektabilitas Risma tetap lebih tinggi dibandingkan Gus Halim sekalipun," katanya.
"Sekarang yang harus diperhatikan adalah Nasdem yang belum mengambil sikap. Kalau mendukung petahana, ini artinya sama dengan mendukung bumbung kosong. Namun kalau bergabung dengan PKB dan PDI Perjuangan dengan membentuk poros baru, maka ini sama halnya dengan mendinamiskan politik dan akan jauh lebih besar maslahatnya," imbuhnya.
Hal senada juga disampaikan Pengamat Politik Mochtar W Oetomo. Ia mengatakan bahwa PKB dan PDIP tidak menyerah untuk membiarkan melawan bumbung kosong.
Menurutnya, kedua partai ini masih intensif melakukan komunikasi untuk menyiapkan lawan bagi Khofifah - Emil.
"Memang tidak mudah untuk melawan Khofifah - Emil. Apalagi problem saat ini masih belum ditentukan siapa yang berada di nomor satu dan nomor dua. Secara elektoral tokoh PDI Perjuangan ini lebih tinggi dibandingkan PKB. Jika kedua partai ini sudah menentukan calonnya, maka ini tidak boleh dianggap remeh oleh Khofifah - Emil," terangnya.
Ia menambahkan jika Nasdem hingga saat ini belum menentukan sikap, hal ini lebih disebabkan masih menunggu formula yang ditawarkan oleh PKB maupun PDIP.
"Kalau tidak ada penawaran formula, bisa jadi Nasdem akan bergabung ke poros besar (pendukung petahan)," ucapnya.
Sementara itu, Bendahara DPW PKB Jatim Fauzan Fuadi mengungkapkan masih ada waktu bagi partainya untuk menyiapkan calon.
"Kalau menyangkut figur, kami punya nama KH Marzuki Mustamar yang merupakan Ketua PWNU Jatim yang lalu, dan Ketua DPW PKB Jatim, Gus Halim Iskandar," katanya.
Fauzan menambahkan ada kecenderungan masyarakat menginginkan ada dua pasang calon atau bahkan lebih pada Pilgub Jatim mendatang. Namun di sisi lain, adalah potret tingkat kepuasan terhadap petahana yang dinilai masih belum optimal.
Menurut Fauzan, PKB membaca hasil survei itu sebagai peluang untuk menyodorkan calon untuk bertarung dengan petahana.
Bahkan, Fauzan mangatakan bahwa kemunculan penantang sebetulnya juga diinginkan oleh kubu pengusung petahana.
Hanya saja, Fauzan menegaskan PKB tidak mau gegabah. Sebab tidak boleh hanya asal mengusung melainkan juga berhitung untuk menang.
Baginya memunculkan calon pada menit akhir tak jadi soal malah bisa jadi positif secara politik lantaran publik akan terus bertanya dan menunggu calon yang akan diusung oleh PKB dengan koalisinya. "Dengan begitu, kami akan siapkan kejutan," katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim, Ony Setiawan, sepakat bahwa jika dilihat dari hasil survei, masih ada peluang untuk mengejar petahana.
Apalagi, PDIP dari berbagai pembahasan mengerucut pada nama-nama seperti Menteri Sosial Tri Rismaharini, dan Budi Sulistiyono alias Kanang yang merupakan anggota DPR RI terpilih.
Menurut Ony, PDIP pasti akan berkoalisi mengingat jumlah kursi mereka di legislatif belum cukup untuk mengusung calon sendiri. Saat ini pembicaraan terkait itu terus berlangsung di tingkat pusat.
Ony pun membantah jika belum munculnya calon dari PDIP lantaran tarik ulur antar partai yang akan berkoalisi. Namun, dia memastikan begitu ada perintah dari pusat, maka kader PDIP akan langsung bergerak. "Konteks pilgub, kita tidak akan terburu-buru," tandassnya. (mus/jay)
Editor : Jay Wijayanto