Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Cepat Terdeteksi, Jumlah Kasus Gagal Ginjal pada Anak Meningkat

Rahmat Sudrajat • Kamis, 8 Agustus 2024 | 02:47 WIB
HARUS DIWASPADAI: Seorang pasien anak dengan gagal ginjal menjalani hemodialisa di RSUD Dr Soetomo.
HARUS DIWASPADAI: Seorang pasien anak dengan gagal ginjal menjalani hemodialisa di RSUD Dr Soetomo.

PROF DR MOESTOPO - Kasus hemodialisis (HD) atau cuci darah pada penderita gagal ginjal yang dialami oleh anak-anak maupun remaja dari tahun ke tahun mengalami penambahan kasus.

Hal ini dipicu oleh salah satunya kadar garam dan penyedap rasa yang terlalu tinggi menyebabkan gagal ginjal. 

Penambahan kasus tersebut karena mudahnya terdeteksi penyakit tersebut sehingga langsung ada perhatian atau tindakan medis.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Timur, dr. Sjamsul Arief, MARS, Sp.A(K), mengatakan, untuk saat ini perkembangan kasus gagal ginjal pada anak sehingga menyebabkan cuci darah atau hemodialisis bertambah.

Bertambahnya penyakit gagal ginjal karena cepat terdeteksi dari tempat rujukan kesehatan.

"Jadi kasus gagal ginjal pada anak tidak berkurang, malah bertambah karena baiknya sistem informasi dan rujukan dari kesehatan," kata dr. Sjamsul, Rabu (7/8).

Menurutnya, penemuan kasus baru lebih bagus diketahui agar penanganan juga bisa maksimal dan dapat segera diatasi.

Meski demikian, kasus gagal ginjal pada anak saat ini bukan termasuk dalam kejadian luar biasa extraordinary.

"Penemuan kasusnya lebih bagus sehingga perhatian lebih bagus. Sehingga rujukan dari puskesmas ke rumah sakit tingkat c, b dan a juga bagus. Jadi jumlahnya meningkat tapi nggak ada sesuatu yang extraordinary," tegasnya.

Banyak anak sampai mengalami cuci darah penyebab utamanya menurut dr. Sjamsul pada ginjal 80 persen yang sudah mengalami peradangan atau Glomerulonefritis Akut (GNA) hingga emonologis atau lupus.

Sedangkan pada luar ginjal seperti dehidrasi akut atau penyakit bawaan.

"Jadi penyebabnya hemodialisis baik dari ginjal maupun dari luar ginjal," terangnya.

Minuman instan berpemanis menurut dr. Sjamsul sebagai pemicu terjadinya masalah ginjal.

Karena secara medis seperti kopi sachet kurang baik untuk kesehatan karena mengandung akrilamit yang lebih tinggi dibandingkan kopi bubuk biasa. 

"Akrilamit bisa menyebabkan gangguan syaraf penyebab kanker hyper kolesterol dan sebagainya. Kalau gula tinggi sering minum juga nggak baik, akan bisa menimbulkan diabetes pada anak-anak," imbuhnya.

Mie instan juga menurutnya mempunyai pengaruh, karena kadar garam yang tinggi ditambah dengan penyedap rasa.

Bahkan dia mencontohkan jika dibandingkan dengan di Singapura mie instan yang disajikan harus memenuhi ketentuan batas nutrisi di negara Singapura, jadi berbeda rasanya jika dibandingkan di Indonesia.

"Nah, seringnya mengkonsumsi mie instan bisa menyebabkan obesitas dan hipertensi. Apalagi mempunyai kadar garam yang tinggi dan penyedap masakannya yang kurang baik. Garam yang tinggi jelas nggak baik untuk ginjal," ungkapnya.

Oleh karena itu, dia mengimbau agar sebaiknya tidak mengkonsumsi minuman dan makanan instan yang berlebihan agar terhindar dari pemicu terjadinya penyakit ginjal.

Jika sampai terjadi cuci darah maka seumur hidup akan tergantung pada alat dialyzer dan tidak bisa diobati karena ibarat mesin sudah rusak, kalaupun ingin sembuh harus melakukan transplantasi ginjal, namun risikonya besar.

"Kalau sudah gagal ginjal stadium 2-3 seumur hidup tergantung dari alat cuci darah gak bisa diobati. Jadi harus dijaga betul pola minum dan makannya," pungkasnya. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#cuci darah #surabaya #gagal ginjal #hemodialisa #mie instan #minuman sachet #idai