Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Akibat Gemar Makan Mie Instan, Anak Usia 13 Tahun Asal Madiun Harus Jalani Cuci Darah Selama Dua Tahun di RSUD Dr Soetomo, Karena Gagal Ginjal Kronis

Rahmat Sudrajat • Rabu, 7 Agustus 2024 | 13:10 WIB
HIBUR DIRI: Micel bermain organ tunggal di rumah singgah Nginden Intan Barat, Surabaya, Selasa (6/8).
HIBUR DIRI: Micel bermain organ tunggal di rumah singgah Nginden Intan Barat, Surabaya, Selasa (6/8).

RADAR SURABAYA - MC, 13, tak menyangka jika harus menjalani cuci darah saat usianya yang masih berkembang.

Gadis kelas 2 SMP itu didiagnosa mengidap gagal ginjal kronis akibat sering mengkonsumsi mie instan sejak usia 10 tahun.

Warga adal Caruban, Kabupaten Madiun, Jawa Timur itu sejak 2022 hingga saat ini menjalani cuci darah di RSUD Dr Soetomo, Surabaya.

Kini gagal ginjal kronis telah menginjak stadium 5 dan harus menjalani cuci darah seminggu dua kali.

Saat ditemui di rumah singgah, Rumahku di kawasan Nginden Intan Barat, Surabaya dia terlihat sedang belajar ditemani oleh kedua orang tuanya.

Maklum selama dua tahun menjalani cuci darah, dia tidak pernah masuk sekolah.

Pihak sekolah hanya memberikan pembelajaran, tugas dan ujian melalui daring.

Menurut ibunda MC, Melly sebelum didiagnosa mengalami gagal ginjal, anaknya merasakan sesak nafas, dia pun membawanya ke puskesmas dan klinik.

Namun dari kedua fasilitas layanan kesehatan ini tidak ada hasil apapun, sehingga Melly membawanya ke RSUD Caruban.

Setelah diperiksa secara intensif, hingga pemeriksaan laboratorium dan rontgen selama kurang lebih tiga hari opname, pihak dokter mendiagnosa MC gagal ginjal kronis.

"Dengan hasil tes kreatinin 14 dan dinyatakan gagal ginjal kronis serta kalsium rendah sehingga keesokan harinya dirujuk ke RSUD Dr Soetomo untuk dilakukan pemeriksaan dan cuci darah," kata Melly, Selasa (6/8).

MC pun menjalani cuci darah pertama kali di RSUD Dr Soetomo, Surabaya, 14 Oktober 2022. Saat itu dia duduk dibangku kelas 6 SD.

Sang ibunda mengakui bahwa anaknya gemar mengkonsumsi mie instan.

Bahkan sebelum dirawat di RSUD Caruban, anaknya tersebut sempat mengkonsumsi mie seduh. Ditambah lagi MC jarang makan nasi setiap harinya.

"Ya setiap hari makannya mie saja gak pernah makan nasi. Makan mienya sehari dua kali. Bahkan sebelum opname dia sempat makan mie seduh dan ketika itu dia muntah. Apalagi minumnya selalu air es dan ditambah makan snack gitu," terang Melly.

Lebih lanjut Melly menjelaskan, saat menjalani perawatan medis secara intensif di RSUD Dr Soetomo, dokter yang memeriksa MC menyebut penyakit yang diderita karena pertumbuhan tulang yang terlambat sehingga ginjal tidak berkembang.

"Bilangnya dokter karena pertumbuhan tulang terhambat jadi ginjal nggak berkembang dan mengecil, nggak sesuai dengan umurnya. Mungkin juga dipicu dengan makanan mie instan yang mendorong ginjalnya bermasalah," tuturnya.

Kini Melly pun hanya bisa pasrah dan terus memotivasi anaknya agar tetap semangat untuk menjalani hidup dengan cuci darah.

Meski sempat drop, beberapa waktu lalu, karena tidak menjalani cuci darah kini kondisi Micel terus membaik.

Dengan ketelatenan pasangan Daud dan Melly yang harus keluar dari pekerjaannya untuk mengasuh anak semata wayangnya tersebut, MC kini hanya menjalani cuci darah sebanyak dua kali dalam seminggu.

"Kata dokter sudah membaik. Sebelumnya cuci darah seminggu tiga kali sekarang jadi dua kali seminggu. Dokter bilangnya sudah ada kemajuan dan membaik. Sudah tidak opname lagi," ungkap Melly.

Menurut Melly, anak seusia anaknya yang menjalani cuci darah di RSUD Dr Soetomo juga relatif banyak. Mereka juga menderita gagal ginjal akut.

"Kalau barengnya MC yang dirawat itu kurang lebih ada 12 anak. Banyak sekali kalau di rumah sakit ada yang dari Gresik, Jombang, hingga Surabaya," terangnya.

Oleh karena itu, berkaca dengan pengalaman merawat anaknya yang mengalami gagal ginjal kronis, Melly berharap kepada orang tua untuk lebih peduli kepada pola makan anak-anaknya.

"Semoga anak-anak sehat semua. Jangan sampai bertambah lagi pasien anak-anak yang mengalami gagal ginjal. Jaga pola makan, banyak-banyak minum air putih," harapnya.

Selama dua tahun Melly dan suaminya memutuskan untuk tinggal di Rumah Singgah yang terletak di kawasan Nginden Surabaya.

Melly memutuskan untuk keluar dari pekerjaan di Caruban dan sang suami Daud memilih bekerja di Surabaya agar memudahkan dalam merawat MC dan mengantarkan cuci darah yang harus rutin seminggu dua kali.

Micel juga harus tetap bersekolah melalui daring agar mendapatkan hak pendidikannya meskipun sedang menjalani cuci darah. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#cuci darah #madiun #rumah singgah Nginden #pasien anak #surabaya #gagal ginjal #caruban #mie instan #rsud dr soetomo