RADAR SURABAYA-Keberadaan tiga bunker di bantaran Sungai Kalimas di kawasan Stasiun Surabaya Kota masih menjadi misteri.
Tidak banyak referensi mengenai keberadaan bunker yang belakangan viral tersebut.
Yang jelas, keberadaan bunker tersebut menjadi bagian sejarah yang tidak bisa dipisahkan dari Kota Pahlawan.
Kuat dugaan, keberadan bunker tersebut memiliki keterkaitan dengan sitem pertahanan kota yang dibangun pemerintah kolonial di masa penjajahan.
Apakah bunker tersebut bagian dari Benteng Prins Hendrik di kawasan Ujung, Kecamatan Semampir, Surabaya?
Dalam salah satu artikelnya, nationalgeographic.grid.id menyebut bahwa Benteng Prins Hendrik atau Citadel Prins Hendrik dibangun pada pertengahan abad ke-19. Tepatnya di masa gubernur jenderal VOC, Van Den Bosch, pada tahun 1837.
Penamaan benteng Prins Hendrik ini diambil dari nama putra mahkota kerajaan Belanda waktu itu, yakni Prins (Prince) Willem Frederik Hendrik.
Benteng itu berlokasi di Kelurahan Ujung, Kecamatan Semampir, tepatnya di timur sungai Kalimas dekat jembatan Petekan, atau yang sekarang jadi kampung Benteng.
Namun, benteng berbentuk persegi panjang tersebut sudah dibongkar pemerintah VOC dan tidak menyisakan sebongkah bangunan pun.
Kini, jejak benteng itu hanya menyisakan toponimi nama-nama jalan yang sesuai. Seperti Jalan Benteng, Jalan Benteng Miring dan Jalan Benteng Dalam di kawasan Semampir.
Beberapa tahun setelah itu, pemerintah kolonial Belanda membangun benteng lagi di kawasan Kedung Cowek, Kenjeran, yang dinamakan Kustbatterij (baterai/artileri pesisir).
Benteng yang kini lebih terkenal sebagai Benteng Kedung Cowek itu dibangun tahun 1901 dan pernah dimanfaatkan pejuang Surabaya dan laskar Batalyon Sriwijaya dari Sumatera Utara, dalam perang 10 November 1945 melawan artileri dari kapal-kapal perang Sekutu Inggris.
Pada artiket tersebut juga menyebutkan bahwa penulis William Barrington mencatat situasi Benteng Prins Hendrik tahun 1860 itu dalam bukunya Life in Java With The Sketches of The Javanese.
Di antaranya, Barrington menyebut keberadaan terowongan bawah tanah yang mengarah ke tempat pertahanan lainnya hingga ke batas kota di tepi pantai.
Nah, benteng Prins Hendrik tampaknya menjadi pusat dari terowongan dan bunker-bunker pertahanan yang mengitari kota Surabaya.
Jadi apakah bunker di bantaran Kalimas tersebut termasuk bagian dari terowongan-terowongan menuju titik-titik pertahanan terluar di benteng Prins Hendrik saat itu?
Sebagaimana dilansir Jawapos.com, tiga bungker yang ditemukan di sekitar Stasiun Surabaya Kota tersebut memiliki pintu masuk yang diduga berada di tanggul Sungai Kalimas.
“Sekilas, struktur bangunannya mirip Benteng Kedung Cowek. Itu bisa dilihat dari jenis batu struktur penyusunnya,” kata Pendiri Komunitas Roodebrug Soerabaia, Ady Setiawan.
Ady mengakui, keberadaan bunker tersebut masih menjadi misteri. Titik pintu masuk dan keluarnya belum diketahui.
Ada dugaan, bunker tersebut terhubung ke Stasiun Surabaya Kota. Ini masuk akal karena keberadaan bunker itu adalah sebagai sarana perlindungan.
Sedangkan keberadaan Stasiun Surabaya Kota atau Stasiun Semut saat itu adalah salah satu pilihan tercepat untuk keluar dari Kota Surabaya jika perang berkecamuk.
Stasiun itu adalah satu-satunya stasiun kereta api yang dibangun Staatssporwegen, BUMN KA milik VOC, di Surabaya pada tahun 1870-an.
Ada ciri khas yang dimiliki bunker-bunker di tepian Kalimas tersebut. Salah satunya adalah keberadaan sumur di dekat bunker. Sumber air tersebut diduga digunakan untuk bertahan hidup saat bersembunyi. (nug/jay)
Editor : Jay Wijayanto