Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Gedung Singa di Kawasan Kota Lama Dilirik Dubes Belanda, Apa Keistimewaannya?

Dimas Mahendra • Rabu, 31 Juli 2024 | 00:45 WIB

ZONA EROPA: Gedung Singa yang terletak di kawasan Kota Lama, tepatnya di Jalan Jembatan Merah, Surabaya, menarik perhatian Dubes Belanda Lambert Grijns. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)
ZONA EROPA: Gedung Singa yang terletak di kawasan Kota Lama, tepatnya di Jalan Jembatan Merah, Surabaya, menarik perhatian Dubes Belanda Lambert Grijns. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)


RADAR SURABAYA – Kawasan Kota Lama menjadi salah satu poin penting pembahasan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dengan Duta Besar (Dubes) Belanda untuk Indonesia, Lambert Grijns.

Dalam kesempatan tersebut, keduanya membahas sejumlah peluang kerja sama. Di antaranya revitalisasi Gedung Singa di kawasan Kota Lama Surabaya dan Makam Peneleh.

Melalui pertemuan tersebut, Eri berharap Kota Surabaya dapat sesegera mungkin menjalin sister city dengan kota-kota yang ada di Belanda.

Seperti, peluang sister city dengan Kota Rotterdam yang disebut Dubes Belanda memiliki kesamaan dengan Kota Surabaya.

“Terkait dengan cagar budaya, beliau sangat interest (tertarik) dengan Kota Lama, bagaimana bisa ada (terintegrasi) dengan kawasan Eropa, Arab, dan Cina. Mereka takjub luar biasa, salah satunya adalah Gedung Singa yang menjadi perhatian beliau,” kata Eri, Selasa (30/7).

Ia mengungkap, ada alasan khusus mengapa Gedung Singa menarik perhatian Dubes Belanda.

Sebab, Gedung Singa tersebut dirancang oleh tiga arsitek asal Belanda.

Eri pun menyampaikan bahwa Gedung Singa tersebut telah tercatat dalam bagunan cagar budaya.

“Gedung Singa saat ini masuk dalam pengelolaan Jiwasraya (BUMN),” ungkapnya.

Kedua adalah menyasar Makam Peneleh Surabaya. Di sana, juga dimakamkan wali kota pertama di Surabaya yang berasal dari Belanda.

“Kami sedang revitalisasi Makam Peneleh dengan Bu Petra (Belanda), juga dengan Begandring Soerabaia. Belanda memberikan bantuan (data) siapa saja yang dimakamkan di sana, dan juga anggaran yang bekerjasama dengan Begandring dan Pemkot Surabaya, sehingga bisa menjadi living library,” jelas Eri.

Dan ketiga adalah terkait dengan pengelolaan air di Kota Pahlawan.

Pengelolaan air merupakan cara bagaimana sungai di Surabaya menjadi bersih.

Selain itu, Eri juga ingin memanfaatkan air sungai dengan menyediakan transportasi air.

“Seperti yang saya sampaikan saat menjadi Kepala Bappeko (Bappeda Litbang), maka salah satu alternatif itu adalah transportasi air, sudah ada kajiannya. InsyaAllah juga akan dibantu Belanda nanti, karena di sana (Belanda) ada taxi air, mungkin itu bisa dilakukan di Surabaya,” terangnya.

Oleh sebab itu, Eri berharap beberapa pembahasan tersebut dapat segera terealisasi.

Seperti, transportasi air dapat bisa beroperasi di Kota Pahlawan di tahun 2026.

Selanjutnya, Makam Peneleh, maupun bangunan-bangunan yang ada di kawasan Kota Lama Surabaya.

“Ketika sudah terkoneksi semua, bisa mendatangkan turis, ekonomi kita akan bergerak. Itu yang akan kita dikerjasamakan dengan Belanda nanti. Ada juga di bidang ekonomi, maupun maritim, dan ada banyak hal,” ujar dia. (dim/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#makam peneleh #Sister City #gedung singa #Dubes Belanda #revitalisasi #lambert grijns #wali kota surabaya #pemkot surabaya #Eri Cahyadi #kawasan kota lama