Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Akibat Cuaca Harga Cabai Rawit Naik, Begini Jurus DKPP Surabaya Agar Emak-Emak Tak Bingung Bikin Sambal

Dimas Mahendra • Selasa, 30 Juli 2024 | 21:52 WIB
PEDAS: Harga cabai merah besar di sejumlah daerah di Jatim merangkak naik hingga Rp 60 ribu per kilogram. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)
PEDAS: Harga cabai merah besar di sejumlah daerah di Jatim merangkak naik hingga Rp 60 ribu per kilogram. (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA - Harga cabai rawit masih tinggi di pasar-pasar di Kota Surabaya.

Berdasarkan pantauan Radar Surabaya, harga cabai rawit merah pe rkilonya, mencapai angka Rp 69 ribu.

Hal ini membuat Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya harus mengambil langkah preventif untuk mengatasi kenaikan harga ini.

Kepala DKPP Surabaya Antiek Sugiharti mengungkapkan kalau naiknya harga cabai ini merupakan dampak dari cuaca.

Sejumlah daerah penghasil cabai, menurut dia, mengalami kekeringan sehingga panen tersendat.

Selain itu, ada pula yang terkena serangan hama sehingga panen berkurang banyak.

"Untuk mengetahui, bagaimana kondisi harga, kita rutin melakukan pengecekan harga pangan di pasar,” kata Antiek, Selasa (30/7).

Kebutuhan pasokan cabai rawit di Surabaya angkanya menurut Antiek ialah 391 ton tiap bulannya.

Sedangkan untuk cabai merah besar ada di angka 270 ton per bulan.

Guna mencukupi kebutuhan itu, Surabaya memasok cabai dari sejumlah daerah.

Sebutlah seperti dari Kediri, Malang, Blitar dan ada juga yang dari Jawa Tengah.

Hanya saja, untuk musim panen kali ini memang sedang terjadi kendala.

Hal itu yang kemudian menyebabkan harga cabai naik sejak bulan Juni lalu.

Diperkirakan, harga cabai ini masih akan tinggi hingga minggu ke tiga di bulan Agustus.

Melihat kondisi hari ini, dinas juga menggerakkan para kelompok tani Surabaya agar dapat menambah pasokan cabai ini.

"Petani yang kita dorong, ada di Made, Pakal, dan Lakarsantri. Kita juga mendorong petani urban farming yang menanam di pekarangan rumah, atau yang memanfaatkan lahan fasum/fasos itu,” ucapnya.

Dari hal itu, dia mengharapkan kebutuhan cabai di Surabaya bisa terpenuhi.

Dia juga berharap, warga Kota Surabaya juga bisa melakukan gerakan tanam cabai di rumahnya masing-masing.

Emak-emak di Surabaya disarankan minimal menanam pada dua pot, sehingga jika bikin tak sampai bingung.

Cukup memetik dari tanaman pot yang disarankan DKPP Surabaya itu.

“Itu bisa untuk mencukupi kebutuhan sendiri. Kalau gerakan menanam itu minimal dua pot, itu sudah mampu mengurangi kebutuhan pasar. Kalau kebutuhan terbesar, biasanya dari rumah makan atau restoran,” ujarnya. (dim/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#harga cabai #dkpp surabaya #Antiek Sugiharti #cabai rawit #cabai merah besar #cabai merah #tanam cabai di rumah #pot