RADAR SURABAYA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana memberikan penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial (SLKS) kepada masyarakat yang sudah mendonorkan darahnya 100 kali.
Rencananya, ada 1.500 orang yang akan mendapat penghargaan dari orang nomor satu di Indonesia itu.
Dari jumlah itu, sebanyak 627 orang atau 46 persennya adalah pendonor dari Jawa Timur.
Lebih spesifik lagi, dari 627 orang itu, 324 orang di antaranya adalah warga Kota Surabaya.
Nah, sebelum berangkat ke Jakarta pada 3 Agustus nanti, calon penerima penghargaan mendapat pembekalan dari Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi di Graha Sawunggaling, Sabtu (27/7).
Wali Kota Eri pun menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada 324 orang pendonor sukarela tersebut.
Sebab, ratusan pendonor itu, menjadi bagian dari pahlawan kemanusiaan.
“Alhamdulillah setiap tahun, Surabaya adalah yang terbanyak di Jawa Timur. Orang Surabaya mengajarkan kita beramal melalui donor darah. Saya berterima kasih kepada Ketua PMI Jawa Timur, Imam Oetomo yang memberikan semangat kepada warga Kota Surabaya,” kata Wali Kota Eri.
Ia berharap, momen ini dapat menjadi motivasi bagi calon-calon pendonor darah yang baru.
Sehingga jumlah pendonor darah aktif di Kota Surabaya akan terus bertambah.
“Terbukti ada 324 yang sudah mendonorkan darahnya 100 kali lebih. Insyaallah yang dibawah 100 kali juga banyak yang muda-muda. Karena di Surabaya, orang yang mendonorkan darahnya tidak pernah berhenti, terima kasih warga Kota Surabaya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Jawa Timur, Imam Oetomo menyampaikan, sebanyak 627 orang pendonor dari Jawa Timur akan berangkat untuk menerima penghargaan SLKS secara langsung dari Presiden Jokowi.
“Surabaya selalu terbanyak, ada 324 orang pendonor, terima kasih kepada Bapak Wali Kota dan masyarakat Surabaya. Memang benar bahwa warga Surabaya selalu mencerminkan jati dirinya sebagai bagian dari Kota Pahlawan, Surabaya selalu dipuji oleh pusat, dan saya terharu dengan Surabaya,” ungkap gubernur Jatim periode 1998-2008 itu. (dim/opi)
Editor : Nofilawati Anisa