RADAR SURABAYA – Suhu udara di Surabaya pada siang hari terasa sangat terik sekitar 35 derajat Celcius. Namun malam hari suhu turun hingga 23 derajat Celcius. Mirip hawa pegunungan.
Fenomena tahunan pada musim kemarau ini biasa dikenal dengan istilah bediding. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut bediding merupakan istilah untuk menyebut perubahan suhu yang mencolok pada puncak musim kemarau.
BMKG menyebut fenomena alamiah bediding terjadi antara Juli hingga September. Fenomena ini berkaitan dengan adanya pergerakan angin dari arah timur (angin muson timur), yang berasal dari Benua Australia. Angin dari selatan itu dingin tapi kering.
Perubahan suhu yang ekstrem akibat bediding bisa memicu beberapa masalah kesehatan. Misalnya tubuh terasa menggigil, asma, alergi, migrain, hingga stres pada tubuh.
Untuk mengantisipasi efek samping tersebut, dokter memberi saran:
1. Perbanyak minum air putih karena tubuh sangat rentan mengalami dehidrasi saat musim kemarau.
2. Olahraga rutin setiap hari minimal 30 menit. Olahraga ringan saja seperti jalan kaki, jogging, senam atau yoga.
3. Konsumsi makanan sehat kaya nutrisi. Buah dan sayur sangat dianjurkan.
4. Istirahat yang cukup. Sinar matahari dan suhu tinggi berisiko menyebabkan masalah kesehatan. Seperti heat stroke, dehidrasi, masalah pada mata hingga kulit. (rek)
Editor : Lambertus Hurek