SURABAYA – Pesatnya perkembangan teknologi turut membawa dampak pada kehidupan masyarakat, khususnya penggunaan gadget.
Hal ini tak hanya dimanfaatkan oleh orang dewasa saja, namun juga anak-anak.
Akibat penggunaan gadget yang tak terbatas dan tak diawasi, serta kurangnya interaksi dengan orang tua, keluarga, teman atau lingkungan sekitar, membuat penggunaan gadget pada anak jadi tak terkendali.
Akibatnya tren gangguan perkembangan anak dan remaja karena kecanduan gadget, game online hingga perilaku seksual secara online saat ini meningkat di Jawa Timur.
Dari data Poli Jiwa dan Remaja Rumah Sakit Jiwa Menur, Surabaya interval kunjungan berobat sejak Januari-Juni 2024 mengalami peningkatan mencapai 3.000 pasien yang terdiri dari anak-anak dan remaja.
Sedangkan untuk psiko terapi atau terapi dengan psikolog mencapai 1.200 yang mayoritas kasusnya karena usia kembang anak seperti speech delay.
Psikiater Konsultan Anak dan Remaja, RS Jiwa Menur, Surabaya, Ivana Sajogo, dr., SpKJ, Subsp. A. R(K) mengatakan, saat ini tren yang meningkat terkait masalah anak-anak pra remaja dengan prestasi yang menurun.
Ini dikarenakan kecanduan gadget yang merambah ke game online bahkan menjurus pada perilaku seksual online.
Mereka dominasi untuk rawat inap, bahkan yang kecanduan gadget biasanya datang dengan marah-marah dan anti sosial.
"Tercatat di Rumah Sakit Menur Surabaya, sekitar 3.000 anak yang rutin mengikuti terapi okupasi atau terapi keterbatasan fisik dan kognitif anak fisioterapi, dan terapi wicara. bila pasien yang hanya bertemu psikolog atau psikoterapi sekitar 1.200 pasien selama enam bulan terakhir ini," kata dr. Ivana, Selasa (23/7).
Jumlah tersebut menurutnya berasal dari pasien di Jawa Timur seperti Surabaya maupun Sidoarjo yang dilakukan perawatan di RSJ Menur.
Lebih lanjut dia menjelaskan, kecanduan gadget biasanya ada perilaku yang menyimpang seperti perilaku emosional, implusif, dan agresif.
Biasanya dibutuhkan waktu untuk perawatan seminggu sampai dua minggu.
"Karena mereka butuh penanganan untuk mengurangi pemakaian gadget dan saat menjalani rawat inap mereka lebih banyak untuk bercerita mengapa suka menggunakan gadget, nah, setelah kita temukan permasalahan inilah yang kemudian kita jadikan terapi untuk pemakaian gadget," terangnya.
Bahkan dia menceritakan kasus yang dialami oleh seorang anak yang melakukan tindakan kekerasan sampai dengan membacok ibunya lantaran tidak diberikan uang untuk top up game online.
"Jadi sampai saat ini perilaku menyimpang karena game online sangat luar biasa. Dan harus segera dicegah karena pengaruh pada tumbuh kembang anak terutama remaja," ungkapnya.
Oleh karena itu, peran orang tua untuk mengajak anaknya berkomunikasi sangat penting, pasalnya penyimpangan yang dilakukan oleh anak-anak biasanya dialami ketika orang tua jarang memperhatikan.
Sehingga anak lebih sering untuk membentuk komunitas, bergaul dengan orang baru yang dirasa sefrekuensi.
"Anak-anak yang berperilaku menyimpang ini jarang diajak berbicara oleh orang tua. Memang tidak mudah, apalagi orang tuanya sibuk mencari nafkah. Tapi perlu ambil waktu sejenak untuk buah hati agar keinginan bisa didengar dan diperhatikan," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari