SURABAYA - Fenomena bediding sedang marak dibahas oleh masyarakat khususnya di wilayah Jatim dan Bali. Bediding merupakan serapan dari bahasa Jawa yang berarti "terasa dingin".
Bediding adalah kondisi dimana suhu udara yang turun drastis pada malam hingga dini hari, terutama di bulan-bulan puncak musim kemarau, yakni Juli sampai September. Fenomena ini umum terjadi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Surabaya.
Di Surabaya sendiri, fenomena bediding memiliki dampak signifikan pada kondisi dan perilaku makhluk hidupnya.
Salah satu tempat wisata di Surabaya, yaitu Kebun Binatang Surabaya (KBS), juga mengalami fenomena bediding terhadap satwa yang berada di dalamnya.
Perubahan yang paling terlihat adalah perilaku atau sikap pada hewan primata. Pada saat fenomena bediding ini, hewan yang DNA-nya lebih dekat ke manusia ini lebih terlihat tenang dan cenderung malas bergerak (mager).
Mereka tidak banyak bermain di air kolam yang ada di tengah-tengah sangkar seperti biasanya.
Fenomena ini diyakini berhubungan dengan udara yang tiba-tiba terasa dingin, padahal cuaca sedang panas. Seperti salah satu contohnya adalah satwa monyet yang ternyata enggan untuk bermain di kolam pada pagi atau siang hari seperti biasanya.
Fenomena bediding juga memiliki dampak pada kondisi kesehatan hewan di KBS. Oleh karena itu, petugas/keeper di kebun binatang seringkali memberikan tambahan nutrisi dan vitamin pada hewan-hewan yang terpengaruh oleh fenomena bediding ini.
Staf KBS juga terus berusaha untuk memantau dan mengelola kondisi satwa yang terpengaruh oleh fenomena ini agar mereka tetap sehat dan merasa nyaman. (far/mag/jay)
Editor : Jay Wijayanto