RADAR SURABAYA – Banyak limbah maupun sampah rumah tangga di sekeliling kita yang bisa didaur ulang menjadi barang yang bermanfaat.
Untuk membuat limbah menjadi barang bermanfaat, butuh tangan-tangan kreatif.
Juga dibutuhkan orang-orang yang mempunyai ide-ide liar.
Nah, di Kota Surabaya ini banyak sekali orang-orang yang memiliki ide-ide kreatif.
Salah satunya adalah Himawan Suripto.
Berawal dari keisengan membuat miniatur kendaraan dari limbah kaleng rokok hingga kabel antena untuk menyenangkan cucu, membuat Himawan Suripto akhirnya keterusan hingga menghasilkan cuan jutaan rupiah.
Himawan Suripto, 70, sudah membuat miniatur kendaraan sejak 2012 lalu.
Dia sudah menciptakan ratusan miniatur motor dari limbah seperti Harley Davidson, lokomotif kereta api, vespa, hingga mobil mewah Rolls Royce dari tangannya.
"Awalnya iseng, membuatkan cucu mainan. Itu di tahun 2012, terus saya pajang di counter saya, lah kok ada yang beli, dengan terpaksa ya melepaskan. Akhirnya saya buat lagi," tutur Himawan, Jumat (19/7).
Dia memanfaatkan kaleng rokok bekas, kabel antena, kancing baju, busa kursi, hingga botol untuk menyulap menjadi miniatur yang bernilai tinggi.
Memang tak sulit baginya untuk membuat miniatur itu, pasalnya bahan-bahan yang dia buat ada semua di sekitar tempat tinggalnya yang berdekatan dengan ruko aksesori kendaraan dan tempat pembuangan sampah sementara.
"Ya gak sulit, bahannya ada di sekitar sini semua tinggal dibuat saja. Semua ini murni limbah. Yang sulit kan waktu membuatnya saja butuh ketelatenan karena agak rumit," terangnya.
Dari keisengan dan ketelatenan inilah membuat mantan mandor bangunan ini bisa menghasilkan jutaan rupiah. Harganya setiap miniatur Rp 1 juta hingga Rp 5 juta.
"Kalau seperti Harley Davidson harganya Rp 5 juta, vespa Rp 1 juta dan lokomotif kereta juga Rp 5 juta," ujarnya.
Karyanya ini sudah dinikmati hingga ke mancanegara seperti Jerman, Belanda Korea maupun Amerika Serikat.
Dia juga pernah beberapa kali sempat ditawari untuk menggelar pameran di luar negeri, namun dia tolak.
"Ya banyak yang nawari untuk pameran ke luar negeri tapi saya gak mau. Mending ke dalam negeri saja. Biar orang luar negeri yang melihat sendiri ke sini," ungkap Himawan.
Untuk membuat satu unit miniatur dia mengaku bisa dua hari, apalagi jika dikerjakan full bisa sehari jadi.
Namun kini tenaga Himawan berkurang di usianya yang sudah menua.
"Sekarang satu miniatur saja bisa seminggu sampai dua minggu. Ya karena tenaganya gak seperti dulu," ujarnya.
Dia juga mengaku tidak ada pelajaran khusus untuk membuat miniatur, hanya otodidak dan insting.
"Ya belajar sendiri main insting saja gak pakai pola sebelum membuat. Ya kita syukuri saja pemberian yang maha pencipta ini," imbuhnya.
Dengan hasil membuat miniatur dari limbah dia berhasil menguliahkan anaknya sampai lulus. Meski demikian usianya yang semakin menua, dia masih belum menemukan penerus untuk membuat miniatur ini.
"Kalau generasi sekarang kan sulit kalau membuat yang njelimet begini jadi sampai sekarang ya masih saya garap sendiri," pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa