SURABAYA - Hari pertama masuk sekolah tahun ajaran 2024/2025, kemarin, tak selalu meriah. Masih ada sekolah di Surabaya yang sepi murid baru. Bahkan, ada SMP swasta di Surabaya yang siswa barunya kurang dari lima orang.
Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Swasta Wilayah Surabaya Timur Wiwik Wahyuningsih mengatakan, SMP swasta yang siswanya kurang dari lima terdapat di kawasan Tenggilis dan Rungkut.
"Tahun ini tidak ada yang nol siswa, tapi ada yang hanya mendapatkan di bawah lima siswa," ungkap Wiwik.
Meski demikian, dia menyebut tahun ini lebih baik daripada tahun lalu. Sebab, pagunya hampir merata.
"Ada sekolah yang sudah terpenuhi pagunya seperti di Surabaya Selatan. Saat pendaftaran negeri belum tutup, sekolah tersebut sudah terpenuhi pagunya," tuturnya.
Selain sekolah yang minim siswa baru, menurut dia, SMP 17 Agustus 1945 di Semolowaru, ada dua siswa yang baru mendaftar pada hari pertama. Sedangkan di Gubeng ada 10 siswa yang mendaftar saat MPLS.
"Bagi mereka yang baru mendaftar, kami arahkan ke sekolah yang belum mendapatkan siswa. Kita harus berbagi supaya merata," ungkap perempuan yang menjadi Kepala SMP 17 Agustus 1945 Surabaya.
Jumlah pagu di 264 SMP swasta yang tersebar di Surabaya maksimal tujuh rombel. Tujuannya agar ada pemerataan di SMP swasta.
"Kami mengimbau warga Surabaya yang belum mendaftar sekolah segera mendaftar. Jangan sampai ada sekolah yang kurang siswa," harapnya.
Tahun ini, SMP swasta di Surabaya sudah menerima sekitar 18 ribu siswa. Sedangkan tahun lalu yang diterima di SMP swasta sebanyak 20 ribu siswa.
"Saat ini jumlahnya belum final. Sementara sekitar 18 ribu yang sudah masuk terdaftar di SMP swasta di seluruh Surabaya," jelasnya.
Jika alasan siswa belum mendaftar karena tidak ada biaya, Wiwik memastikan bahwa sekolah swasta di Surabaya tidak akan semena-mena menolak siswa kurang mampu. Sebab, ada anggaran dari pemkot berupa bantuan operasional pendidikan daerah (BOPDA). (rmt/rek)
Editor : Jay Wijayanto