Abdul Manan Korban Tewas Laka Elf di Tol Ngawi Merupakan Tokoh Agama dan Masyarakat di Kenjeran
Rahmat Sudrajat• Minggu, 14 Juli 2024 | 03:22 WIB
BERDUKA Foto kenangan Abdul Manan saat bersama anak dan istrinya yang tertempel di dinding rumah almarhum.
SURABAYA - Abdul Manan, 69, yang tewas akibat kecelakaan maut di tol Solo Ngawi, Sabtu (13/7) dini hari di mata anak ke-4 Firdausatun Ni'mah, 31, merupakan sosok yang tegas namun ada sisi humorisnya. Bahkan Firdausatun merupakan anak yang paling disayang oleh almarhum.
"Beliau ada saatnya tegas, ada saatnya humoris. Saya itu anak nomor empat tapi perempuan terakhir. Beliau kalau sama saya sayang banget. Saya masih dianggap anak kecil sampai sekarang," kata Firdausatun, Sabtu (13/7).
Dia mengaku sangat kehilangan abahnya itu. Karena sejak kecilnya dia yang paling dekat dengan Abdul Manan. "Lebih dimanjakan ketika saya kecil dulu Kalau anak yang lain, minta beliin apa, enggak dihiraukan. Tapi kalau saya minta, langsung dituruti," ungkapnya.
Lebih lanjut di menjelaskan semasa hidupnya, Abdul Manan merupakan Ketua Yayasan Pendidikan Darul Falah Surabaya. Selain itu Abdul Manan juga menjadi Rais Syuriah NU Kecamatan Kenjeran Surabaya.
"Abah (Abdul Manan, Red) menjabat sebagai Rais Syuriah NU Kenjeran selama 6 periode, 30 tahun. Juga sebagai Ketua MUI Kecamatan Kenjeran. Beliau juga dikenal sebagai tokoh agama dan tokoh masyarakat," terangnya.
Bahkan Firdausatun mengaku tidak enak hati ketika mendapatkan kabar bahwa ada rencana untuk berwisata ke Yogyakarta. Keberangkatan ke Gunung Kidul itu dilakukan setelah rapat kerja (raker) mulai Rabu, Kamis dan terakhir Jumat.
"Nah ada guru SD yang kerja double di yayasan cerita kalau saya habis ini akan ke Yogyakarta, akhirnya habis raker lalu diajak jalan jalan. Ternyata berangkat Jumat. Saya sempat gak enak hati ketika itu karena baru saja saya dari Yogyakarta 26-27 Juni lalu," ujarnya.
Dia juga tidak berani membatalkan rencana tersebut mengingat juga hari Senin sudah mulai masuk sekolah. "Tapi saya enggak berani ngomong ke abi ayah saya (membatalkan rencana itu, Red). Ya sudah bismillah dan gak mimpi aneh-aneh," ungkapnya.
Meski demikian dia sudah mempunyai perasaan yang tidak enak sejak awal dengan waktu yang mepet masuk sekolah hari Senin mereka memutuskan untuk berwisata. "Kalah mimpi aneh gak ada. Tapi perasaan sudah gak enak dari awal, karena bayangkan jalan jalan ke Yogyakarta ditanggal waktu mau masuk sekolah Senin," ujarnya.
Sementara itu rencananya kelima orang keluarga ini akan dimakamkan TPU Kalilom Lor. Kini keluarga masih menunggu kedatangan jenazah dari Boyolali. (rmt/jay)